TELUKKUKAN – Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kuantan Singingi (Kuansing) periode 2026–2029 resmi dilantik di Pendopo Rumah Dinas Bupati Kuansing, Ahad (13/9/2026) pagi.

Kepengurusan baru yang diketuai oleh dr. Benni Antomy ini dilantik langsung oleh Ketua IDI Wilayah Riau, dr. Marhan Effendi. Acara tersebut dihadiri oleh Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Kuansing, Muradi dan jajaran Forkopimda, serta puluhan dokter dari berbagai fasilitas kesehatan di wilayah Kuansing.

Dalam pidato perdananya, dr. Benni Antomy menegaskan bahwa pelantikan ini bukan sekadar pergantian struktur atau acara seremonial semata, melainkan awal dari amanah besar untuk menjaga kehormatan profesi serta memperjuangkan kesejahteraan anggota.

"Hari ini adalah penanda dimulainya sebuah amanah untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu kita dan memastikan bahwa keberadaan kita sebagai dokter memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," ujar Benni.

Mengusung tema pengurusan "Satu IDI Terus Maju", Benni menekankan pentingnya persatuan di tengah beragamnya latar belakang pendidikan, usia, hingga tempat bertugas para dokter di Kuansing.

"Kita boleh berbeda tempat bekerja, berbeda generasi, maupun berbeda pendapat, tetapi kita mempunyai satu identitas: kita adalah dokter dan berada di dalam satu rumah besar, Ikatan Dokter Indonesia," tegasnya.

Ia juga menyoroti tantangan dunia medis modern, seperti pesatnya perkembangan teknologi kesehatan, penggunaan kecerdasan buatan (AI), hingga dinamika pasca-pandemi. Menghadapi situasi tersebut, Benni berkomitmen untuk terus meningkatkan mutu dan profesionalisme anggota melalui kegiatan ilmiah berkala. Bersamaan dengan agenda pelantikan, IDI Kuansing menggelar seminar ilmiah bertajuk Emergency in Daily Practice yang diikuti lebih dari 80 peserta.

Sementara itu, Ketua IDI Wilayah Riau, dr. Marhan Effendi, mengingatkan pengurus baru agar memegang teguh semangat melayani anggota serta memperkuat solidaritas profesi.

"Pesan utama kami, jangan sampai pengurus bersikap ingin dilayani, tetapi harus melayani anggota," kata Marhan.

Marhan juga menyinggung beratnya tantangan profesi medis saat ini, termasuk maraknya sorotan publik dan stigma dugaan malapraktik yang kerap bersumber dari salah paham administratif di fasilitas kesehatan. Ia menekankan bahwa profesi kedokteran adalah ikhtiar maksimal sesuai standar operasional prosedur (SOP), bukan jaminan kesembuhan mutlak.

"Dokter tidak memiliki swalayan nyawa. Kami hanya berikhtiar dengan izin Yang Mahakuasa untuk menolong sesama," pungkas Marhan.

Selain fokus pada konsolidasi internal, IDI Kuansing periode 2026–2029 berkomitmen memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Kuansing guna mendukung penuh program prioritas sektor kesehatan di daerah tersebut.***