JAKARTA - Istana Negara menjadi saksi pergantian pucuk pimpinan Kementerian Keuangan pada Senin (14/9/2026) sekitar pukul 15.30 WIB. Suahasil Nazara kini resmi memegang kendali Bendahara Negara, menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa yang telah mengabdi selama satu tahun enam hari sejak meneruskan tugas Sri Mulyani Indrawati pada 8 September 2025.

Mundurnya Purbaya dari kursi kementerian menutup satu babak perjalanan panjang seorang birokrat yang bermula dari jalur teknik. Lahir di Bogor pada 7 Juli 1964, Purbaya menamatkan studi sarjana di jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB). Ketertarikannya pada ekonomi membawanya menyeberang ke Amerika Serikat untuk meraih gelar Ph.D di Purdue University, Indiana.

Ilmu ekonominya mulai diterapkan secara profesional saat usianya menginjak 36 tahun pada 2000. Ia memulai karier sebagai Senior Economist di Danareksa Research Institute. Dalam rentang waktu lima tahun, kemampuannya diakui hingga ia diangkat menjadi Chief Economist dan Direktur PT Danareksa Sekuritas sampai tahun 2008. Di masa itu, ia juga memegang jabatan Komisaris PT Danareksa Investment Management dan mengantongi lisensi Wakil Penjamin Emisi Efek dari Bapepam-LK (sekarang OJK).

Masuk ke lingkaran pemerintahan, Purbaya pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menko Perekonomian Hatta Rajasa di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, ia ditarik menjadi Deputi III Bidang Pengelolaan Isu Strategis di Kantor Staf Presiden (KSP) pada Maret 2015.

Setahun kemudian, ia mengikuti jejak Luhut Binsar Pandjaitan ke Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, hingga akhirnya dilantik sebagai Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Kemenko Marves pada 21 Mei 2018. Ia lalu melenggang menjadi Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada 3 September 2020, menggantikan posisi Halim Alamsyah yang purnatugas sehari sebelumnya.

Sebagai Menteri Keuangan, salah satu warisan kebijakannya adalah penempatan dana Rp200 triliun di himpunan bank pelat merah (Himbara) guna memacu pertumbuhan kredit perbankan ke level dua digit. Keputusan strategis ini diambil guna memperbaiki data Bank Indonesia (BI) yang merekam angka pertumbuhan kredit September 2025 sebesar 7,7 persen, hanya naik tipis dari posisi 7,56 persen di bulan Agustus 2025. Purbaya saat itu berharap suntikan likuiditas mampu mengakselerasi distribusi kredit di tengah masyarakat.

Menjelang masa purnatugasnya pada Selasa (8/9/2026) di Jakarta, ia menceritakan betapa beratnya tekanan memulihkan kepercayaan publik dan menjaga ekonomi nasional. Berat badannya anjlok drastis dari 102 kilogram saat awal menjabat, turun ke 97 kilogram, dan sempat menyentuh angka 88 kilogram. "Berarti kerjanya memang berat, ya," keluhnya seraya tersenyum.

Meski begitu, jabatannya memberi ruang eksperimen yang berharga. "Kalau sukanya di sini. Kalau untuk ilmuwan seperti saya, ekonom kan ilmuwan. Itu paling menarik adalah ketika saya menguji teori-teori di lapangan langsung," pungkasnya.***