
JAKARTA - Nilai tukar mata uang Garuda pada awal pekan ini dibayangi tekanan berat akibat melonjaknya harga minyak mentah global dan ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Kondisi tersebut membuat arah pasar menjadi sangat dinamis bagi para pelaku ekonomi domestik.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyebutkan pergerakan rupiah cenderung melemah pada perdagangan awal pekan ini. Nilai tukar diproyeksikan berada pada rentang Rp17.590 hingga Rp17.685 per dolar Amerika Serikat. Tekanan ini tidak lepas dari melambungnya imbal hasil surat utang Amerika Serikat (US Treasury) serta gejolak harga komoditas energi.
"Namun demikian, DXY yang relatif stabil dan arus modal asing yang positif di pasar obligasi dapat membatasi besaran pelemahan rupiah," terangnya dalam keterangan tertulis, Senin (14/9/2026).
Lonjakan harga minyak mentah menjadi salah satu pemicu utama. Setelah sempat anjlok 2,81 persen ke level US$ 104,6 per barel pada Jumat (11/9/2026), minyak mentah jenis Brent kembali meroket sekitar 3 persen menjadi US$ 107 per barel pada Senin pagi. Sepanjang tahun berjalan (year to date), komoditas ini telah melambung hingga 71,91 persen. Rentetan insiden di Timur Tengah, mulai dari serangan infrastruktur energi Arab Saudi, penutupan pipa East-West, hingga tersendatnya perundingan pembukaan Selat Hormuz, memicu kepanikan akan pasokan global.
Di pasar obligasi, imbal hasil pemerintah bertenor 10 tahun merangkak naik 4,2 basis point menjadi 7,15 persen pada Senin. Sementara itu, yield tenor 5 tahun melonjak 9,2 basis point menuju angka 7,03 persen. Dinamika ini mencerminkan aksi jual (sell-off) obligasi global kala yield US Treasury hampir menyentuh level 5 persen. Beruntung, investor asing masih mencatatkan aliran dana masuk bersih (net inflow) sebesar Rp10,1 triliun ke obligasi pemerintah pada Kamis (10/9/2026).
"Membawa net inflow mtd dan ytd masing-masing menjadi Rp11,7 triliun dan Rp40,8 triliun," rincinya.
Menyikapi tekanan eksternal ini, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengingatkan agar pemerintah dan otoritas moneter bersiap menghadapi periode biaya modal global yang lebih mahal. Ia menilai kenaikan yield US Treasury dan meroketnya harga minyak di atas US$ 100 menuntut strategi yang lebih menyeluruh, bukan sekadar membebankan stabilisasi pada suku bunga acuan (BI Rate).
"Yang perlu mulai kita antisipasi sekarang adalah kemungkinan bunga global justru harus naik lagi. Kalau itu terjadi, tekanan terhadap emerging markets akan datang bukan hanya melalui dolar, tetapi juga melalui repricing seluruh harga modal global," tegasnya.
Untuk menjaga daya tarik aset domestik, yield Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun dinilai butuh ruang penyesuaian menuju kisaran 7,3 hingga 7,5 persen. Fakhrul memandang level tersebut sebagai market-clearing yield yang sehat. Kendati gejolak eksternal cukup kencang, ia meyakini pelemahan rupiah hanya akan mencapai batas Rp17.800 per dolar AS berkat bauran instrumen intervensi Bank Indonesia seperti Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) hingga Local Currency Transaction (LCT).***