
PEKANBARU - Rektor terpilih Universitas Riau (Unri) periode 2026-2030, Prof Ahmad Fadli, ST, MT, PhD menargetkan penguatan kemandirian finansial kampus sebagai agenda prioritas kepemimpinannya. Ia bertekad mengoptimalkan seluruh aset, laboratorium, dan sumber daya manusia untuk meningkatkan pendapatan universitas secara mandiri.
Langkah strategis ini dirancang agar operasional kampus negeri terbesar di Riau tersebut tidak lagi bergantung penuh pada skema Uang Kuliah Tunggal (UKT). Penegasan ini disampaikannya usai memenangi pemungutan suara di Gedung Rektorat Unri, Selasa (13/10/2026) sore.
"Bagaimana Unri ini bisa berdampak untuk semua pemangku kepentingan. Kemudian juga bagaimana Unri ini bisa meningkatkan pendapatan, tidak lagi mengandalkan UKT," terang Ahmad Fadli.
Tahap awal yang akan segera dieksekusi oleh rektor baru ini adalah mengevaluasi tata kelola universitas secara menyeluruh. Pihaknya segera menginventarisasi seluruh aset dan potensi inovasi yang dapat mendatangkan nilai ekonomis bagi institusi pendidikan tersebut.
Pendataan ulang ini dinilai sangat esensial untuk memproyeksikan potensi pendapatan di luar biaya pendidikan yang selama ini ditanggung mahasiswa. Lebih jauh, Ahmad Fadli juga membuka peluang untuk mendorong Unri bertransformasi menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH).
"Tetangga-tetangga kita sudah PTN-BH, Unri ini sebenarnya ditunggu untuk bisa menjadi PTN-BH agar bisa lebih mandiri secara institusional," paparnya.
Selain fokus pada kemandirian ekonomi, guru besar Fakultas Teknik ini menekankan urgensi menyatukan kembali seluruh elemen kampus pascapemilihan. Ia menilai kontestasi rektor murni sebagai bagian dari proses demokrasi yang tidak boleh menyisakan jurang pemisah antar-akademisi.
"Di sini tidak ada istilah menang atau kalah. Semua karena harus ada yang memimpin, itu saja. Dengan berakhirnya pemilihan ini, tentu semua kembali bersatu," tegasnya.
Ahmad Fadli memastikan akan langsung merangkul dua rivalnya, yakni Dr Mexsasai Indra dan Prof Dr Jimmi Copriady untuk duduk bersama membangun universitas. Ia menyadari kompleksitas tantangan yang dihadapi Unri tidak akan mampu diselesaikan oleh rektor seorang diri.
Ia juga berencana menjalin diskusi intensif dengan pimpinan demisioner untuk mengevaluasi program kerja yang tengah berjalan. Program unggulan yang berdampak positif akan dipertahankan, sementara aspek tata kelola yang dirasa kurang maksimal akan menjadi fokus perbaikan ke depan. ***