
JAKARTA - Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat berharap operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) rampung dalam beberapa pekan ke depan. Puluhan ribu personel terus dikerahkan ke lokasi titik api, di tengah berbagai kendala teknis seperti keterbatasan pasokan air dan hambatan pemadaman melalui jalur udara.
Penurunan intensitas sebaran api saat ini menjadi sinyal positif bagi langkah mitigasi pemerintah. Dengan meredanya kebakaran di sejumlah wilayah, otoritas lingkungan optimistis proses pemadaman dan pendinginan kawasan hutan di kedua provinsi tersebut dapat segera dituntaskan.
"Jadi mudah-mudahan dengan bantuan doa dan semuanya, kerja keras di bawah, itu bisa segera selesai," harapnya usai menghadiri agenda Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Perkiraan tenggat waktu penyelesaian krisis lingkungan ini didasarkan pada hasil evaluasi dan pemantauan secara berkelanjutan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Perkembangan situasi operasional di lapangan selalu ditinjau guna menyesuaikan kapasitas logistik maupun pergerakan personel antarwilayah.
"Kalau tadi ngobrol dengan BNPB ya beberapa minggu ke depan lah. Tapi mungkin dengan intensitas yang sudah mulai berkurang," tuturnya.
Operasi pengeboman air (water bombing) yang selama ini menjadi andalan masih terhambat oleh sejumlah faktor teknis di area sasaran. Menyikapi situasi tersebut, pemerintah sangat mengapresiasi tawaran dukungan dari berbagai pihak eksternal, namun penyaluran bantuan akan tetap diselaraskan dengan kebutuhan nyata di garis depan.
Kajian menyeluruh tengah dilakukan untuk memastikan fungsi dan efektivitas setiap armada tambahan yang masuk, khususnya untuk jalur udara. Langkah strategis ini diterapkan agar seluruh sumber daya baru yang dikerahkan tidak saling berbenturan dan benar-benar mampu mempercepat penuntasan karhutla. ***