
PEKANBARU –Aksi demonstrasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Pekanbaru di depan Gedung DPRD Riau, Rabu (21/10/2026), diwarnai ketidakpuasan massa. Selain menuntut langkah konkret pemerintah untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), demonstran juga mendesak pencopotan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.
Ketegangan muncul ketika tiga anggota DPRD Riau, Sumardany, Abdullah, dan Edi Basri, berupaya menemui massa untuk menerima aspirasi. Namun, upaya tersebut tidak berujung pada dialog. Para demonstran menginginkan Ketua DPRD Riau, Kaderismanto, yang langsung menemui mereka.
Sementara itu, Kaderismanto tidak berada di kantor saat aksi berlangsung. Situasi tersebut membuat tiga anggota dewan yang hadir akhirnya meninggalkan lokasi aksi.
Massa Pertanyakan Keseriusan DPRD
Dalam orasinya, koordinator umum aksi mempertanyakan keseriusan wakil rakyat dalam merespons tuntutan demonstran. Ia menyoroti jumlah anggota DPRD Riau yang mencapai puluhan orang, tetapi hanya tiga orang yang datang menemui massa.
“Rakyat yang puluhan orang jumlahnya, yang menemui kita hanya tiga orang ini. Apakah kita terima, teman-teman?” serunya di hadapan peserta aksi.
Pertanyaan itu langsung disambut teriakan, “Tidak!” dari massa demonstran.
Koordinator aksi kemudian menegaskan bahwa persoalan yang mereka suarakan tidak cukup dijawab dengan kehadiran sejumlah anggota dewan. Menurutnya, DPRD dan pemerintah perlu mendorong kebijakan serta langkah nyata untuk mencegah karhutla yang berulang di Riau.
“Kalau kalian paham, kalian akan membuat undang-undang bagaimana mencegah karhutla. Betul, teman-teman?” teriaknya.
“Betul!” jawab massa secara serentak.
Melalui orasi tersebut, demonstran mendesak agar persoalan karhutla tidak hanya menjadi agenda tahunan yang kembali dibicarakan ketika kebakaran dan kabut asap melanda, tetapi ditangani melalui langkah pencegahan yang terukur.
Soroti Ancaman ISPA Akibat Kabut Asap
Dalam aksi itu, massa juga menyoroti dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat. Koordinator aksi menyebut ribuan warga di Pekanbaru dan Provinsi Riau menghadapi ancaman infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
“Katanya kalian membiarkan ribuan jiwa di Pekanbaru, di Provinsi Riau menghadapi dan menerima sakit ISPA. Betul, teman-teman?” serunya.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari kritik demonstran terhadap penanganan karhutla. Mereka meminta pemerintah tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika kebakaran terjadi, tetapi juga memperkuat upaya pencegahan dan perlindungan kesehatan masyarakat.
Meski demikian, angka warga yang mengalami ISPA serta hubungan langsungnya dengan kondisi karhutla dalam pernyataan tersebut masih perlu dikonfirmasi melalui data resmi instansi kesehatan terkait.
Desak Raja Juli Antoni Dicopot
Tuntutan massa tidak berhenti pada persoalan pencegahan kebakaran dan dampak kabut asap. Koordinator aksi juga secara terbuka meminta agar Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dicopot dari jabatannya.
“Apakah kalian berani mencopot Raja Juli Antoni dari Menteri Kehutanan?” serunya.
Tuntutan tersebut mencerminkan desakan demonstran agar pemerintah memberikan pertanggungjawaban atas persoalan kehutanan dan karhutla yang mereka soroti.
Bagi massa, persoalan kebakaran hutan dan lahan bukan semata-mata persoalan teknis pemadaman. Mereka menginginkan langkah kebijakan yang dinilai mampu mencegah kebakaran berulang sekaligus melindungi masyarakat dari dampak lingkungan dan kesehatan.
Aksi Berlanjut, Massa Minta Aspirasi Didengar
Di penghujung orasi, koordinator umum meminta peserta aksi tetap menjaga semangat dan mengikuti rangkaian kegiatan demonstrasi.
“Maka dari itu, saya koordinator umum di sini, saya yang punya acara di sini. Untuk kita lanjutkan, semangat teman-teman! Ikuti acara kita, teman-teman!” serunya.
Aksi kemudian berlanjut dengan seruan dari peserta demonstrasi. Massa berharap tuntutan mereka tidak berhenti sebagai catatan dalam aksi unjuk rasa, tetapi mendapat tindak lanjut dari DPRD Riau dan pemerintah. ***