PEKANBARU – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menyelimuti Riau membuat SMKN Pertanian Terpadu Provinsi Riau mengambil langkah pemulangan siswa asrama pada Kamis (8/10/2026) siang, sebelumnya pada Rabu sore SMU Plus telah memulangkan siswa.

Sebagai salah satu sekolah berasrama, kebijakan tersebut tidak hanya mempertimbangkan kondisi kualitas udara yang memburuk dan risiko kesehatan bagi siswa, tetapi juga kondisi sosial ekonomi keluarga.

Kepala SMKN Pertanian Terpadu Provinsi Riau, Elvira Herasanty, mengatakan selama tiga hari terakhir aktivitas pembelajaran siswa tetap berlangsung hingga sekitar pukul 11.00 WIB. Setelah kegiatan belajar selesai, kebutuhan makan siang siswa tetap dipenuhi melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Selama tiga hari terakhir, kegiatan belajar siswa tetap berlangsung hingga sekitar pukul 11.00 WIB. Setelah itu, para siswa tetap mendapatkan makan siang melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG)," kata Elvira.

Menurutnya, sebelum keputusan pemulangan kembali dilakukan, pihak sekolah telah melakukan koordinasi internal melalui komunikasi dengan tim sekolah. Langkah tersebut dinilai penting karena pemulangan siswa asrama tidak semata-mata berkaitan dengan kondisi udara, tetapi juga menyangkut kemampuan orang tua menanggung kebutuhan anak selama berada di rumah.

Persoalan itu bukan tanpa alasan. Pada pemulangan sebelumnya, terdapat 28 siswa yang memilih tetap berada di asrama karena orang tua mereka tidak memiliki biaya untuk membawa anak pulang.

"Kemarin saat dipulangkan, ada 28 anak yang tidak pulang dan tetap di asrama karena orang tua mereka tidak punya biaya untuk pulang," ungkapnya.

Kondisi tersebut kemudian dilaporkan pihak sekolah kepada Dinas Pendidikan Provinsi Riau. Sekolah meminta agar kebutuhan makan siswa yang tetap tinggal di asrama tetap diperhatikan.

"Saya laporkan ke Dinas agar makan anak-anak tetap disediakan," katanya.

Menurut Elvira, pengalaman tersebut menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan pemulangan kali ini. Sekolah tidak ingin kebijakan untuk melindungi siswa dari paparan kabut asap justru membuat sebagian siswa menghadapi persoalan lain ketika harus kembali ke rumah.

Karena itu, sebelum siswa dipulangkan, pihak sekolah memastikan kebutuhan makan siang mereka terlebih dahulu terpenuhi. Setelah itu, siswa diarahkan untuk kembali ke rumah masing-masing dan mengikuti pembelajaran jarak jauh sesuai kebijakan sekolah.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan kabut asap di sekolah berasrama memiliki persoalan yang lebih kompleks. Perlindungan kesehatan siswa memang harus menjadi prioritas ketika kualitas udara memburuk. Namun, kondisi ekonomi keluarga juga tidak bisa diabaikan.

Bagi sebagian siswa, asrama bukan sekadar tempat tinggal selama mengikuti pendidikan. Asrama juga menjadi tempat mereka mendapatkan kebutuhan dasar, termasuk makan.

Karena itu, penanganan siswa selama masa kabut asap membutuhkan koordinasi antara sekolah, Dinas Pendidikan dan pemerintah daerah agar tidak ada siswa yang terpaksa memilih antara keselamatan kesehatan dan kemampuan ekonomi keluarga.

Pemulangan siswa diharapkan menjadi langkah perlindungan dari paparan udara tidak sehat, sekaligus tetap menjamin kebutuhan dasar siswa, termasuk bagi mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi. ***