PEKANBARU - Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Riau (UIR) dan Universitas Lancang Kuning (Unilak) turun ke jalan membawa sejumlah spanduk protes dan pengeras suara. Mereka berkumpul di depan gerbang utama Kantor Gubernur Riau, Jalan Jenderal Sudirman, menuntut tanggung jawab pemerintah daerah atas pekatnya kabut asap yang memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tengah masyarakat.

Aksi unjuk rasa yang berlangsung Selasa (20/10/2026) ini digerakkan oleh keresahan warga yang terdampak langsung oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Massa mendesak pemerintah agar tidak hanya saling lempar tanggung jawab terkait asap lintas provinsi, tetapi juga mengambil langkah hukum yang tegas tanpa tebang pilih terhadap korporasi pelaku pembakaran lahan.

"Kami hadir membawa amanat penderitaan rakyat Riau yang dipaksa menghirup asap. Penegakan hukum harus transparan, jangan sampai ada pihak yang dilindungi," tegas Koordinator Lapangan BEM UIR, M Ramadhanu Hasibuan.

Selain menyoroti sisi penegakan hukum, mahasiswa juga meminta Pemprov memberikan solusi nyata terhadap dampak karhutla. Mereka menilai sektor pendidikan, ekonomi, dan kesehatan warga telah terganggu secara signifikan akibat kualitas udara yang memburuk.

Untuk meluapkan rasa kecewa, perwakilan massa UIR sempat menampilkan aksi teatrikal di jalanan. Suasana aksi berlanjut dengan pembakaran draf surat tuntutan oleh perwakilan UIR dan Unilak. Langkah ini diambil mahasiswa sebagai bentuk protes karena Gubernur Riau, SF Hariyanto sedang berdinas ke luar kota dan tidak menemui mereka secara langsung.

GoRiau

Pemerintah Provinsi Riau mengutus perwakilannya untuk menemui para demonstran. Perwakilan Pemprov, Dr Syahrial Abdi, AP, MSi turun ke lokasi guna mendengarkan langsung poin-poin yang disuarakan aliansi mahasiswa tersebut.

"Gubernur sedang tidak berada di tempat karena ada tugas luar kota. Semua aspirasi dan tuntutan yang rekan-rekan mahasiswa sampaikan hari ini akan kami catat dan laporkan langsung kepada beliau," papar Syahrial di hadapan kerumunan massa.

Massa yang awalnya bersikeras ingin bertemu kepala daerah akhirnya difasilitasi untuk melakukan panggilan video melalui aplikasi WhatsApp dengan Gubernur Riau, SF Hariyanto. Setelah komunikasi singkat secara virtual tersebut terlaksana, para mahasiswa membubarkan diri dengan tertib dan meninggalkan lokasi pada pukul 18.10 WIB.

(wpa)