BANYAK jalan menuju Roma. Begitulah kira-kira sejuta akal untuk meraih tujuan. Tidak terkecuali pada Pemilu yang yang baru saja berlalu. Setiap Caleg punya cara tersendiri untuk mendapatkan kemenangan, meski terkadang dengan cara yang tidak satria.

Selama masa penghitungan, tidak hanya para caleg yang menunggu dengan harap-harap cemas. Para pendukung dan sahabat di lapangan juga dibuat stres. Sebagian caleg masih kuat berkeliling ke beberapa titik-titik posko relawan atau tim kordinasi kecamatan dan desa.

Hari ketiga, setelah mendapat data di setiap desa dan TPS, semuanya bergerak menuju sektetariat partai masing-masing. Semua caleg ingin melihat data C1 yang telah dikumpulkan oleh saksi-saksi yang telah diberi mandat partai. Sebab saksi hak mutlak partai, meski kinerjamya banyak yang mengecewakan. Sayang untuk mendapatkan C1 tidak semua sekretariat partai terbuka untuk umum termasuk untuk para kader maupun calegnya sendiri.

Aneh, formulir C1 yang bukan dokumen rahasia itu seakan dijadikan jimat oleh sebagian pengurus partai. Namun itu tak menjadi persoalan besar, karena formulir C1 itu ada 12 partai yang memilikinya. Di internal partai gak mau ngasih tetapi kolega di partai lainnya akan memberikan dengan senang hati.

Saat untuk mendapatkan C1 di partai sendiri sulit, namun sudah dapat dari kolega partai lain, maka sejumlah caleg sudah main klaim perolehan suara. Bagi caleg kabupaten/kota akan sangat mudah untuk mengetahuinya, namun bagi dapil DPRD Provinsi apalagi DPR RI yang biasanya meliputi lebih dari satu kabupaten/kota tentu perlu waktu.

Main klaim dengan perolehan angka yang tinggi, membisik dan menjalar sampai ke telinga elit partai. Main klaim ini membuat suasana runyam dan gaduh. Padahal, dilihat dari jumlah perolehan kursi kabupaten/kota meskipun seluruh caleg memilihnya tidak akan terpenuhi satu kursi.

Sikap tak satria akibat buruknya pemahaman sebagian elite parpol yang kurang piawai memainkan strategi memenangka partai. Yang diketahuinya hanya bagaimana orang yang dibelanya dan dia sendiri bisa merebut kursi. Padahal keinginan partai mencuri hati untuk merebut suara tujuannya dapat kursi sebanyak-banyaknya.

Berpikir kerdil dengan cara memaksakan caleg pilihannya harus dengan salah satu caleg provinsi atau DPR RI, jelas langkah pemikiran politik yang hanya sejengkal. Padahal, jika saja setiap caleg diberikan keleluasaan untuk bergandeng dengan banyak caleg, logikanya akan membuka peluang mendulang suara yang besar dan kursi lebih dari satu bisa 2, tiga bahkan 4 dalam 1 dapil.

Taktik memasang caleg yang hebat dan petarung akan menghasilkan raihan suara yang besar. Strategi picik memasang caleg yang dianggap pelengkap penderita itu amalan yang tak layak bagi siapapun elit partai. Banyak terbaca di dapil yang muncul elit partai, maka caleg lainnya dipasang lawan tanding yang tak sebanding.

Petarung yang hebat baru dijuluki kalau bisa mengalahkah yang terhebat. Sudah baku dalam kitab rahasia parpol elite parpol merebut nomor urut peci dan caleg yang dipasang satu dapil diperhitungkan tak akan dapat suara melebihi dirinya. Jika ada kader yang dianggap ''berbahaya'' sudah dibonsai sejak proses pencalegan. Bahkan jauh hari sudah dipecat dari struktur kepengurusan. Tak juga berhasil dilancarkan jurus belah bambu, angkat kawan pijak yang berseberangan.

Siapapun orangnya akan mentertawakan kemenangan yang diraih jika lawan tandingnya diambil yang tak sebanding. Jika anda mengaku jenderal maka kalahkan juga jenderal, cemeeh jika lawan tanding anda kopral. Lebih tak diperhitungkan lagi, sudahlah nomor urut dipasang nomor 1 atau 2 tapi suaranya corot.

Intruksi yang salah kaprah, sejumlah caleg dibuat ketakutan untuk mengajak caleg lain bekerja sama (tandem), Sementara caleg yang didukung sebenarnya tidak semua golongan menerimanya. Namun melawan titah elite partai yang salah kaprah, berisiko buat caleg yang berniat baik, apalagi kalau elite partai hanya pandai menggunakan tangan besi.

Pemikiran yang dangkal ini mestinya disadari, rata-rata pola kepemimpinan yang kaku juga akan terlihat dari hasil perolehan suara elite parpol, pasti jeblok. Dapat pun raihan 1 kursi itu karena nasib baik dan hasil memeras suara caleg lainnya yang dikumpulkan.

Kembali ke tahap perhitungan suara, sudah banyak kabar tersiar adanya upaya tak terpuji untuk mengggelembungkan suara. Celah yang diintai adalah dari pengambilan suara caleg di internal partai. Karena untuk mencuri suara partai lain, itu sangat kecil peluangnya. Padahal sebenarnya untuk mencuri suara dari kawan separtainya sendiri itu juga akan ketahuan. Taruhlah lolos di pleno KPPS sampai ke pleno proviinsi, tapi itu akan menjerat dirinya sendiri, jika setelah penetapan anggota terpilih dibawa kemeja MK.

Faktor silaf dan salah itu manusiawi, kalau itu berlaku karena ketidak sengajaan. Contoh yang saya alami, di salah satu TPS Desa Kesumbo Ampai dan Kelurahan Gajah Sakti suara di TPS tak sama dengan hasil pleno di desa/ kelurahan. Di Kesumbo Ampai sudah diperbaiki tapi di Gajah Sakti tak dapat dicari.

Negeri ini mau baik, salah satunya jalan adalah harus juga baik dari diri sendiri. Sudahlah proses Pemilu penuh tekanan dan intrik, masih mau pula pada tahap rekap suara mau ditukangi. Menang itu memang memuaskan tapi dengan cara yang tak benar itu akan membakar diri sendiri. Bertanding itu memang hanya dua pilihan kalau sudah kalah maka jangan curang untuk menjadi pemenang. Jadilah ksatria jangan jadi pecundang. ***

Bagus Santoso adalah Caleg DPRD Riau Dapil 5 Bengkalis, Dumai dan Meranti.