
BELUM subuh lagi terdengar nada dering HP pertanda ada pesan masuk. Setengah detik kemudian disambung nada dering panggilan, sambung menyambung. Saya tak bergeming untuk menyentuh alat komunikasi yang kadang buat jengkel itu.
Seusai sholat subuh baru saya sentuh pegangan setia ini, ada 8 panggilan tak terjawab ditambah 13 pesan belum dibuka. 13 pesan masuk semuanya berisi undangan untuk datang. Lengkap ada pesta nikah, syukuran desa, pembukaan MTQ, pertemuan wirid ibu-ibu tak ketinggalan dari majlis talim hingga kegiatan organisasi pemuda.
Delapan panggilan tak terjawab satu persatu saya hubungi balik. Sami mawon (sama saja), dari tim SBS, ( kedahnya ada tim pemenangan singkatan dari Sahabat Bagus Santoso) tentang jadwal pertemuan lengkap dengan proposal permohonan dana untuk pertemuan. Ini sangat penting loh mas untuk menambah suara, kata Enggal, tim inti pemenangan meyakinkan saya.
Tak dapat dibayangkan, bagaimana badan ini harus mendatangi semua undangan itu. Apalagi tempat acara berada di pelosok desa sesuai dengan geografis dapil 5 yang saya wakili yaitu Bengkalis, Dumai dan Meranti. Sedangkan Posko utama di Pekanbaru, butuh waktu 5 jam jika memilih undangan dari Bengkalis, 3,5 jam yang di Duri dan Dumai, dan memakan waktu puluhan jam kalau di pulau Rupat atau Tanjung Samak.
Mengatur waktu dan jauhnya jarak tempuh sudah membuat kepala cenat-cenut, belum lagi menghitung biaya yang harus disiapkan. Waduh, mumet setiap kegiatan meski ada hitungannya, biaya akomodasi, transportasi dan konsumsi, plus cindera mata. Tak cukup itu saja, bagi caleg yang punya kemampuan logistik dan duit juga menyiapkan amplop untuk membantu uang bensin kepada yang ada hadir di pertemuan.
Komponen pembiayaan akan bertambah membengkak, tatkala ada biaya tidak langsung, hehe macam nyusun RKA proyek. Orang kalau sudah turun ke lapangan duitnya itu macam tong air yang bocor, kocek seakan kena penyakit gatal-gatal terus saja keluar tanpa bisa di break. Jika caleg sudah terseret arus permintaan, duit segunungpun akan habis terkikis.
Bertempur di medan lumpur itu perlu siasat dan strategi. Kalau terbuai mengejar syahwat jabatan, bisa saja caleg terus dibuat syur dan ketagihan. Hitunganya, tentu setiap undangan akan menambah perolehan suara. Padahal dari pengalaman yang sudah-sudah, korelasi yang siginifikan hanya pada pembengkakan biaya, bukan pada perolehan suara, yakni banyak pertemuan otomatis harus tebal koceknya.
Sahabat dan senior saya di DPRD Riau Zulkarnain, saya lebih senang memanggil bang ustad Zul, pada masa kampanye kebanjiran job untuk mengisi ceramah. Tidak ada waktu yang lowong meski hanya sehari saja. Sambil seloroh saat kami bertemu dengan pimpinan dan anggota komisi D bertemu dan berbincang pada rapat internal menyampaikan pengalamannya, dengan gaya kocaknya.
Berbekal berbagai ilmu, sahabat ini sangat beruntung karena disetiap pertemuan tidak perlu menyiapkan akomodasi dan konsumsi. Hanya modal ketahanan tubuh untuk sampai ke tempat pertemuan dan menjaga jangan sampai rusak pita suaranya saat mengisi ceramah.
Kata sahabat saya yang latar belakangnya pengacara dan dosen ini, hampir waktu dan tenaganya terporsir dengan hitungan sangat wajar bagi seorang politisi. Setiap undangan meski dengan niat ceramah demi mencari rido Allah tetapi karena seorang politisi, maka kali-kalinnya sekali mendayung tiga pulau terlampaui, sekali ceramah bertambah jugalah suaranya. Namun apa yang diperhitungkan banyak melesetnya.
Membantu rumah Ibadah itu salah, hups jangan berhenti membacanya, ada kadang yang menyakitkan hati perut kalau tak sabar. Katanya yang bapak bantu itu kan masjid, bapak kan tidak ngasih duit kepada saya, maka suruhlah mesjid itu mencoblos Bapak. Nah runyamkan, dan inilah yang terjadi di masyarakat. Memilih caleg kalau ada bantuan untuk pribadi, bukan untuk memajukan kampung lingkungan tempat tinggal. Pemikiran yang salah kaprah ini sudah merusak dan ini akibat kelirunya caleg, parpol dan rakyat dalam memaknai arti penting pesta rakyat.
Jika sudah demikian, maka caleg yang dipilih rata-rata, mereka yang padat modal memiliki kekuatan harta benda. Meski hanya datang ke kampung seminggu jelang pencoblosan. Jual beli suara menjadi bancakan bagi mereka yang punya jaringan dan finansial. Pengabdian dan kesetian tersapu serangan fajar , hilang tanpa dikenang, terkubur dalam-dalam. Gejala akut transaksi politik uang telah memporak porandakan panji-panji kejujuran. Meluluh lantakkan makna dan hakekat demokrasi yang sejatinya untuk pencerahan serta mencerdaskan bangsa.
Fenomena politik transaksional adalah cara yang sesat yang dan jelas keliru. Salah kalau terus kita semua membiarkannya apalagi kalau malahan larut didalamnya. Sayang wabah ini, pada pemilu tahun 2014 sepertinya tak kuasa untuk dicegah atau menghentikannya. Pemilih dan yang akan dipilih saling ketergantungan dalam lingkaran menyesatkan. Majlis yang sucipun seakan beranggapan hal yang biasa tatkala meminta bantuan uang dan baju seragam kepada semua caleg. Bagi seorang caleg tentulah berharap dapat juga imbal baliknya berharap dicoblos pada pemilu. Namun apa yang terjadi satu majlis suci ini meminta kepada puluhan caleg, caleg partai A diminta baju seragam, caleg partai B di minta kain sarung, caleg partai X ditodong alat rebana, plus ditambah caleg Z diminta duit untuk jajan. Bayangkan saja kalau ada ratusan majlis mengamalkan praktek seperti ini. Dijamin caleg semaput sebelum bertanding.
Ketika coblosan selesai, semua caleg memang mendapat jatah angka lumayan. Masing-masing dua dan tiga suara, hemmm. Sebuah fenomena yang tidak hanya mengejutkan tetapi sudah hilang dari rasa. Salahkan majlis suci, benarkah para Caleg? Inilah potret demokrasi negeri yang tercinta ini, entah salah dan dosa siapa.
Pemilu sistem proporsional terbuka maupun tertutup ada sisi lebih dan kurangnya. Sistem nomor urut ada istilah nomor peci dan nomor sepatu. Pengurus partai akan sewenang-wenang dengan siasat kepartaian. Pemilu suara terbanyak, tak ada beda antara pengurus partai dan yang tak kenal berpartai , mereka jadi pengurus parpol ketika sudah masuk caleg. Hanya saja, pada pilihan kedua banyak para elite malahan ketua parpol sekalipun terpental dikalahkan oleh caleg yang baru masuk parpol saat pendaftaran caleg.
Nomor urut meski ada pengaruh tetapi tak begitu menggoda. Maka banyak caleg elite parpol yang memasang kadernya pada nomor urut peci 1 dan 2, toh gagal merebut suara terbanyak. Mereka terkalahkan bukan akibat tidak hebat dalam ilmu politik, tetapi kebanyakan mereka dipaksa menyerah karena kekuatan serangan, dimana ada faktor yang tak terbantahkan yaitu kekuatan uang. Meski orang banyak mengatakan uang tidak segalanya faktanya itu faktor yang luar biasa.
Akankah Pemilu lima tahun yang akan datang masih dengan sistem tabur dan siram? Jika ini yang menjadi pilihan kita semua, kesepakatan bangsa Indonesia, maka untuk maju menjadi caleg rasanya perlu perenungan yang panjang dan mendalam, Berat hati ini untuk berhadapan dengan kenyataan bahwa pilihan bukan karena kesetian dan keyakinan tetapi sudah berubah menjadi NPWP, nomer piro wani piro, inilah potret demokrasi negeri yang kita cintai, Wallahu alam bisowab.
Bagus Santoso, Pengurus Parpol di Provinsi Riau, Ketua Komisi D DPRD Riau