JAKARTA, GORIAU.COM - Perusahaan media raksasa di Indonesia, PT Visi Media Asia atau VIVA, sedang dirundung masalah. Perusahaan yang menaungi tvOne, antv dan vivanews.com itu akan mengalami jatuh tempo utang sebesar USD 80 juta atau setara Rp 919 miliar di Deutsche Bank pada Februari 2014.

Pihak manajemen pun langsung putar otak. VIVA tidak dapat membayar utang dari hasil keuntungan. Pasalnya, hingga tahun ini saja, perseroan belum dapat membagikan dividen kepada pemegang saham.

Maka mencari utang baru menjadi cara yang paling realistis. Skema 'gali lubang tutup lubang' pun dilaksanakan seperti cara yang sudah menjadi andalan seluruh perusahaan milik Aburizal Bakrie selama ini.

Ada 2 skema dalam mencari utang baru ini. Pertama, menggadaikan 81,5 persen aset saham perseroan. VIVA akan menggunakan aset fisik perusahaan sebagai jaminan.

''Sebenarnya kami melihat banyak opsi untuk melunasi utang tapi ini pilihan yang tepat,'' ujar Presiden Direktur VIVA, Erick Thohir usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPLSB) di Gedung antv, Jakarta.

Kedua, mencari utang baru melalui perbankan lokal maupun internasional. Direktur Keuangan VIVA Charlie Kasim mengatakan, VIVA mau menerima utang dari bank mana saja yang bersedia memberikan tenor utang sebesar 4 tahun dan bunga di bawah 9 persen.

''Kita berusaha mencari pinjaman baik Dolar maupun Rupiah tapi prefer ke Rupiah,'' jelas dia.

VIVA menargetkan, dari seluruh strategi ini, dapat menarik utang baru di atas USD 100 juta atau setara Rp 1,1 triliun. Sebab, selain membayar utang perusahaan induk, VIVA juga harus membayar utang 3 anak usahanya.

Selain itu, perseroan juga berambisi untuk membangun sebuah pusat media. Nantinya 3 perusahaan ini akan berkantor di satu tempat di daerah pinggir Jakarta. Perseroan akan membeli 10 ha tanah untuk pembangunan gedung.

TvOne dan antv memang saat ini berkantor di lokasi yang berbeda. TvOne berkantor di Pulo Gadung, Jakarta Timur bersama dengan vivanews.com. Sementara antv berkantor di Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Selama ini, seperti diketahui, perusahaan Bakrie memang berhasil lolos dari jeratan utang lama dengan utang baru. Salah satu yang paling dramatis adalah keberhasilan menghindari bangkrut pada 2011 ketika Bakrie harus membayar utang jatuh tempo USD 1,35 miliar. Caranya meminta jaminan pada Credit Suisse, dengan menjaminkan perusahaan batu bara, Bumi Resources, dan berani menjanjikan imbal hasil besar bagi debitor.

Jurus Bakrie berutang memang terbukti menyimpan kunci kelemahan paling fatal yang bisa dialami pengusaha paling kawakan sekalipun. Setiap bisnis yang dibangun dari hasil pinjaman, sebetulnya rentan ambruk ketika ada krisis besar tak terduga.

''Dulu (cara Bakrie mengelola utang) dilakukan dengan ditutup dengan utang baru lagi. Tapi itu kan ada batasnya, sampai berapa kuat dia bisa melakukannya lagi. Ketika ada satu problem force majeure, rontok semua seperti rumah kartu,'' kata Direktur Eksekutif Lembaga Riset Ekonomi KataData, Metta Dharmasaputra.

Sekarang, ekonomi dunia tengah mengalami krisis. Indonesia pun mulai terdampak. Indikatornya pada melemahnya nilai tukar Rupiah dan bursa saham Indonesia mulai rontok.

Apakah strategi dari perusahaan milik Bakrie ini akan berhasil? Apakah penjualan asetnya bakal laku atau ada yang akan memberi utang?

Aburizal Bakrie sendiri sempat membanggakan salah satu perusahaan media besar miliknya ini, bahwa telah menjadi incaran para pengusaha untuk dimiliki.

Bahkan Ical, panggilan Aburizal Bakrie, mengibaratkan perusahaan VIVA grup sebagai wanita cantik. ''Biasanya cewek cantik yang minang banyak,'' ujarnya.

Oleh karena itu, bisakah VIVA keluar dari masalah utangnya ini?***