PEKANBARU - Rencana pengurangan drastis Dana Bagi Hasil (DBH) minyak dan gas bumi (migas) untuk Kabupaten Siak pada tahun 2027 memicu langkah proaktif pemerintah daerah setempat. Bupati Siak, Dr Afni Zulkifli bersiap menemui jajaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI di Jakarta guna mempertanyakan skema pembagian yang berpotensi memangkas pundi-pundi penerimaan daerah hingga 70 persen.

Sebelum melangkah ke gelanggang pusat, bupati perempuan pertama di Negeri Istana tersebut menyempatkan diri menjenguk Bupati Siak periode pertama, Arwin AS yang tengah terbaring sakit. Kunjungan ini sekaligus menjadi momen bagi Afni untuk meminta doa restu dari sosok yang dianggapnya sebagai bapak pembangunan Siak tersebut.

"Beliau adalah tokoh besar pembangunan Siak. Ayahanda Arwin AS, Bupati Siak pertama yang terpilih secara demokratis," tutur Afni.

Afni mengisahkan, dirinya memiliki ikatan emosional yang erat dengan Arwin bak anak dan ayah. Ia merasa langkahnya menjaga marwah daerah saat ini tidak lepas dari bimbingan serta kiprah pendahulunya itu di masa lampau.

"Dulu, tangan beliaulah yang menggenggam kami melangkah ke gelanggang, dan alhamdulillah Allah kasih menang untuk menjaga marwah negeri serta terus berjuang," sambungnya.

Menjelang pertemuannya dengan Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Kemenkeu yang dijadwalkan Senin (5/10/2026), Afni mengaku mendapat suntikan semangat dari Arwin. Tokoh yang meletakkan fondasi pembangunan Siak usai pemekaran tahun 1999 itu menitipkan pesan mendalam agar pantang menyerah menyuarakan kepentingan rakyat.

"Berjuanglah, jangan menyerah. Diiringi dengan doa. Sebagaimana dulu aku berjuang untuk jembatan bisa membentang di atas Sungai Siak," ucap Afni menukil pesan sang tokoh.

Semangat itulah yang dibawa Afni bersama Ketua dan Anggota DPRD Siak terbang ke ibu kota. Mereka membawa misi utama membedah formula perhitungan dari pusat yang dinilai merugikan karena menyebabkan DBH Migas Siak terus merosot. Padahal, rekam jejak kesetiaan dan kontribusi Siak bagi Republik Indonesia telah teruji sejak era Kesultanan di bawah pimpinan Sultan Syarif Kasim II.

Afni secara kritis mempertanyakan kewajaran angka bagi hasil yang disodorkan pemerintah pusat. Berdasarkan proyeksi yang diterima, hak rakyat Siak dari kekayaan alamnya diprediksi hanya tersisa puluhan miliar saja untuk tahun depan.

"Dari dulu pernah tembus Rp600 miliar, apakah pantas DBH Siak tahun depan hanya akan dibagi sekitar Rp36 miliar? Sampai kapan angka-angka bagi hasil itu dibagikan dalam diam dan ruang hitung-hitung sepihak pusat saja?" cecarnya.

Meski membawa tuntutan yang berat, Afni memastikan delegasi Kabupaten Siak akan tetap mengedepankan etika dan kesantunan khas Melayu dalam proses diplomasi birokrasi ini. Pendekatan dialogis yang berlandaskan tabayyun menjadi jalan utama untuk mencari keadilan fiskal bagi daerah penghasil agar tidak terus-menerus dirugikan.

"Meski kami datang tak membawa tepak, tapi sepuluh jari akan kami katupkan. Meski kami tak memakai tenun dan tanjak, rasa takzim akan kami dahulukan. Ber-tabayyun akan kami tuntunkan," terangnya.

Mengakhiri pernyataannya, Afni memohon dukungan doa dari seluruh lapisan masyarakat agar delegasi pemerintah daerah diberikan kelancaran, sekaligus mendoakan kesembuhan bagi Arwin AS. ***