
PEKANBARU - Jumlah titik panas atau hotspot di Provinsi Riau mengalami penurunan drastis dan hanya menyisakan satu titik api, Senin (12/10/2026). Satu-satunya titik yang tersisa tersebut terdeteksi berada di wilayah Kabupaten Indragiri Hulu berdasarkan pantauan hingga pukul 23.00 WIB.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan situasi di Pulau Sumatera secara keseluruhan yang masih dikepung oleh ribuan titik panas. Total hotspot di Sumatera menembus angka 2.905 titik, yang mayoritas disumbang oleh provinsi tetangga.
Meski angka hotspot lokal turun signifikan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Riau untuk tetap memperhatikan kondisi udara. Potensi udara kabur akibat asap kiriman masih membayangi wilayah tersebut.
Provinsi Sumatera Selatan tercatat sebagai penyumbang hotspot terbanyak di Pulau Sumatera dengan jumlah mencapai 2.153 titik. Angka yang sangat tinggi ini mengindikasikan masih masifnya kejadian kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut.
Posisi kedua ditempati oleh Bangka Belitung dengan 331 titik, disusul Lampung sebanyak 223 titik, dan Jambi 182 titik. Sebaran api juga terpantau di Bengkulu sebanyak sembilan titik, Sumatera Utara empat titik, serta Aceh dan Kepulauan Riau yang masing-masing mencatatkan satu titik.
Tingginya jumlah titik panas di provinsi tetangga membawa konsekuensi langsung bagi kualitas udara di Riau, terutama bergantung pada arah pergerakan angin harian.
Merespons situasi lingkungan saat ini, BMKG secara resmi meminta warga membatasi kegiatan di luar rumah jika kabut asap dirasa semakin pekat. Langkah antisipasi ini sangat penting untuk mencegah infeksi saluran pernapasan akut.
"Masyarakat juga diharapkan terus memantau informasi cuaca terbaru dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat, petir, serta angin kencang di wilayah yang telah mendapat peringatan dini," papar Forecaster on Duty BMKG, Gita Dewi S.
Penggunaan masker di luar ruangan menjadi tameng utama bagi warga yang harus tetap menjalankan aktivitas keseharian di tengah ancaman udara kabur. ***