
JAKARTA - Pergerakan nilai tukar mata uang domestik menghadapi tekanan ganda dari indikator ekonomi global dan memanasnya suhu geopolitik. Di pasar spot, mata uang Garuda merosot ke posisi Rp 17.948 per dolar AS. Angka ini menandakan pelemahan sebanyak 45 poin atau sekitar 0,25 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan sebelumnya yang berada di level Rp 17.903 per dolar AS.
Analis Doo Financial, Lukman Leong membeberkan bahwa penurunan ini sangat dipengaruhi oleh rilis data pesanan barang tahan lama Amerika Serikat yang tercatat lebih kuat dari prediksi awal.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah kembali meningkatnya imbal hasil obligasi AS, harga minyak mentah dunia dan prospek kenaikan suku bunga The Fed menyusul data ekonomi AS yang lebih kuat, serta penolakan proposal Iran oleh AS," jelasnya, Senin (28/9/2026).
Melansir laporan Xinhua, nilai pesanan baru untuk barang tahan lama pabrikan AS selama Agustus bergerak stabil menyentuh 338,6 miliar dolar AS. Secara persentase, angka tersebut tidak bergerak atau berada di 0 persen, namun capaian ini lebih tangguh dibanding ekspektasi pasar yang memproyeksikan penurunan hingga 0,4 persen.
Kondisi fundamental tersebut memicu sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat dari bank sentral AS. Berdasarkan pantauan instrumen CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga acuan sebesar seperempat poin pada pertemuan Oktober mendatang kini melompat ke angka 70 persen, melampaui posisi 50 persen pada awal pekan. Penguatan ekspektasi ini tidak lepas dari komentar para pengambil kebijakan di Washington yang memberi isyarat bahwa suku bunga akan dipertahankan pada level tinggi dalam waktu yang lebih lama.
Imbasnya langsung memukul instrumen investasi lain. Imbal hasil surat utang AS bertenor 10 tahun kini bertengger di level 5,2 persen, sementara untuk tenor 30 tahun mencapai 5,52 persen.
Di luar faktor makroekonomi, kebuntuan diplomasi di Timur Tengah turut menyumbang beban. Kantor berita Anadolu melaporkan bahwa Presiden AS, Donald Trump telah menolak draf kesepakatan terbaru dari Iran dalam negosiasi tidak langsung di New York pekan ini.
Pemerintah Teheran awalnya menawarkan opsi pembukaan kembali jalur perairan strategis serta kesiapan memulai pembicaraan nuklir dalam batas waktu satu pekan. Sebagai kompensasi, mereka meminta Washington menghentikan blokade angkatan laut, mencabut sanksi penjualan minyak Iran, dan memulihkan gencatan senjata di seluruh kawasan. Penolakan ini memunculkan rencana bahwa otoritas AS sedang mempertimbangkan serangan baru usai pemilihan umum sela di sana pada November 2026.
Ketidakpastian ini merambat cepat ke bursa komoditas energi dunia. Harga acuan minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat di kisaran 94,15 dolar AS per barel, dan patokan Brent berada di angka 103,2 dolar AS per barel. Menghadapi tumpukan sentimen tersebut, Lukman memperkirakan fluktuasi rupiah akan bergerak di dalam rentang Rp 17.900 hingga Rp 18.000 per dolar AS. ***