
Setiap 5 Oktober, dunia memperingati Hari Guru Sedunia. Ini bukan sekadar momentum untuk memberikan ucapan selamat kepada guru atau mengenang jasa mereka. Lebih dari itu, Hari Guru Sedunia seharusnya menjadi ruang untuk bertanya: sudah sejauh mana pendidikan kita berhasil menyiapkan anak-anak menghadapi kehidupan yang sesungguhnya?
UNESCO menempatkan Hari Guru Sedunia sebagai momentum untuk merayakan kontribusi guru sekaligus merefleksikan dukungan yang dibutuhkan guru agar dapat menjalankan profesinya secara optimal. Peringatan ini berkaitan dengan ILO/UNESCO Recommendation concerning the Status of Teachers yang diadopsi pada 1966, yang antara lain berbicara mengenai hak, tanggung jawab, persiapan profesional, rekrutmen, kondisi kerja, dan pengembangan profesional guru.
Pertanyaan tentang kualitas pendidikan menjadi semakin relevan ketika kita melihat hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025.
Pesan di Balik Angka PISA 2025
PISA yang diselenggarakan OECD mengukur kemampuan siswa usia 15 tahun dalam membaca, matematika, dan sains, serta pada PISA 2025 juga mencakup computational problem solving.
Berdasarkan PISA 2025 Results Volume I, Indonesia memperoleh skor rata-rata 389 untuk sains, 384 untuk membaca, 394 untuk matematika, dan 380 untuk computational problem solving. Angka ini masih berada di bawah rata-rata OECD, masing-masing 482 untuk sains, 482 untuk membaca, 481 untuk matematika, dan 480 untuk computational problem solving.
Angka-angka tersebut tentu harus dibaca secara proporsional. PISA bukan alat untuk menghakimi seorang guru, kepala sekolah, apalagi sebuah sekolah tertentu. PISA merupakan gambaran mengenai performa sistem pendidikan secara agregat. Hasilnya dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kondisi sosial ekonomi, keluarga, kualitas sekolah, kompetensi guru, kurikulum, lingkungan belajar, hingga kebijakan pendidikan.
Namun, kita juga tidak boleh menutup mata terhadap pesan penting yang disampaikan angka tersebut. Persoalan pendidikan kita bukan sekadar berapa banyak anak yang bersekolah, tetapi apa yang mereka kuasai setelah bertahun-tahun berada di bangku sekolah.
OECD mencatat sekitar 37 persen siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih dalam sains, sementara rata-rata OECD mencapai 74 persen. Dalam matematika, sekitar 17 persen siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih, dibandingkan 65 persen rata-rata OECD. Sementara dalam membaca, sekitar 27 persen siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih, sedangkan rata-rata OECD mencapai 69 persen.
Di sinilah kita perlu melakukan refleksi. Pada level dasar, anak seharusnya tidak hanya mampu menghafal rumus atau menjawab soal berdasarkan contoh yang pernah diberikan guru. Mereka harus mampu memahami informasi, membaca persoalan, menggunakan pengetahuan untuk mengambil keputusan, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan beradaptasi dengan perubahan.
Tantangan Pendidikan di Riau
Pertanyaannya kemudian: bagaimana dengan anak-anak Riau? Tentu kita harus berhati-hati. Tidak tepat menyebut angka 389, 384, atau 394 sebagai "skor PISA Riau". PISA tidak memberikan skor resmi khusus untuk Provinsi Riau dalam publikasi OECD yang menjadi rujukan ini.
Karena itu, angka PISA Indonesia harus kita tempatkan sebagai benchmark nasional dan internasional, bukan sebagai skor langsung yang menggambarkan kondisi pendidikan Riau.
Untuk melihat wajah pendidikan Riau secara lebih objektif, kita membutuhkan triangulasi berbagai sumber data, seperti Statistik Pendidikan BPS Provinsi Riau, Rapor Pendidikan, Asesmen Nasional, serta berbagai indikator pendidikan lainnya.
Tetapi justru di sinilah tantangan kita. Kita tidak cukup hanya bertanya berapa angka partisipasi sekolah, berapa jumlah ruang kelas yang dibangun, berapa banyak guru yang tersedia, atau berapa besar anggaran pendidikan yang dialokasikan.
Kita harus mulai bertanya lebih dalam. Apakah anak-anak Riau mampu membaca dan memahami informasi dengan baik? Apakah mereka mampu menggunakan matematika untuk menyelesaikan persoalan kehidupan sehari-hari? Apakah mereka mampu memahami fenomena sains dan membedakan informasi ilmiah dengan informasi yang menyesatkan? Apakah mereka mampu menggunakan teknologi bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk belajar, bekerja, berkreasi, dan menyelesaikan persoalan? Dan yang paling penting, apakah pendidikan yang kita berikan mampu membuat mereka mandiri ketika mereka meninggalkan bangku sekolah?
Seorang kawan pernah melontarkan pertanyaan sederhana, bahkan dalam suasana bercanda: "Kalau anak yang sudah tamat SMA dilepas untuk hidup mandiri, apakah dengan pendidikan yang telah diterimanya ia sudah mampu membangun kehidupan yang layak?"
Pertanyaan sederhana itu sebenarnya menyimpan persoalan yang sangat besar. Sebab, ukuran keberhasilan pendidikan pada akhirnya bukan hanya nilai rapor, ijazah, atau kelulusan. Pendidikan harus membekali anak dengan kemampuan untuk menjalani kehidupan.
Anak yang lulus SMA semestinya memiliki kemampuan dasar untuk berpikir, berkomunikasi, memecahkan masalah, mengambil keputusan, bekerja sama, beradaptasi, serta terus belajar. Mereka harus memiliki karakter dan kompetensi yang membuat pendidikan yang diterimanya benar-benar berguna setelah meninggalkan sekolah.
Membangun Ekosistem Pendidikan yang Sehat
Karena itu, refleksi Hari Guru Sedunia seharusnya tidak berhenti pada kalimat "guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa." Guru memang penting. Tetapi guru tidak boleh dibiarkan bekerja sendirian.
Kita membutuhkan ekosistem pendidikan yang sehat: guru yang kompeten dan sejahtera, kepala sekolah yang memiliki kepemimpinan kuat, kurikulum yang relevan, fasilitas pembelajaran yang memadai, keluarga yang terlibat, lingkungan sosial yang mendukung, serta pemerintah yang konsisten menjadikan kualitas pembelajaran sebagai prioritas.
Bagi Riau, perhatian terhadap kualitas pendidikan harus menjadi agenda pembangunan jangka panjang. Kita tidak boleh puas hanya karena angka pembangunan fisik meningkat, sementara kemampuan dasar peserta didik tidak bergerak secara signifikan.
Pendidikan harus menghasilkan learning outcomes, bukan sekadar schooling outcomes. Anak bersekolah adalah schooling. Tetapi anak yang mampu memahami, berpikir, berkarya, memecahkan masalah, dan membangun kehidupannya secara mandiri adalah learning outcomes yang sesungguhnya.
Hasil PISA 2025 juga menunjukkan bahwa capaian Indonesia pada 2025 secara umum tidak berbeda signifikan dibandingkan 2022 untuk matematika, membaca, dan sains. Bahkan, OECD mencatat performa Indonesia pada 2025 masih berada di bawah capaian 2015.
Maka pertanyaan otokritiknya sederhana tetapi penting: Apa yang sebenarnya telah kita kerjakan selama ini? Sudah berapa besar anggaran yang kita keluarkan? Sudah berapa banyak program yang kita jalankan? Sudah berapa banyak gedung sekolah yang kita bangun? Sudah berapa kali kurikulum kita ubah? Dan yang lebih penting: seberapa besar perubahan nyata yang dirasakan anak-anak kita dalam kemampuan belajar dan menghadapi kehidupan?
Pertanyaan tersebut bukan untuk menyalahkan guru. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk penghormatan kepada guru. Sebab, guru tidak seharusnya dibebani tuntutan menghasilkan generasi unggul tanpa dukungan sistem pendidikan yang kuat.
Momentum Perubahan untuk Masa Depan Riau
Hari Guru Sedunia harus menjadi momentum untuk memperkuat guru sekaligus membenahi sistem pendidikan. Untuk Riau, kita perlu bergerak dari paradigma membangun sekolah menuju membangun kualitas pembelajaran. Dari mengejar angka partisipasi menuju memastikan anak benar-benar belajar. Dari mengejar kelulusan menuju memastikan anak memiliki kompetensi.
Sebab pada akhirnya, masa depan Riau tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak sumber daya alam yang kita miliki, tetapi oleh seberapa berkualitas manusia yang mengelola sumber daya tersebut. Minyak dan gas dapat habis. Hutan dapat berkurang. Sumber daya alam memiliki batas. Tetapi manusia yang terdidik, kritis, kreatif, berkarakter, dan mampu beradaptasi adalah modal yang dapat terus menciptakan nilai baru.
Maka pada Hari Guru Sedunia ini, mari kita tidak hanya mengucapkan terima kasih kepada para guru. Mari kita bertanya lebih jujur: Sudahkah kita memberikan dukungan yang cukup kepada guru? Sudahkah sistem pendidikan kita benar-benar membuat anak-anak belajar? Dan untuk Riau, pertanyaan paling penting adalah: Ketika anak-anak kita lulus sekolah dan suatu hari berdiri sendiri menghadapi kehidupan, apakah pendidikan yang kita berikan hari ini benar-benar telah mempersiapkan mereka untuk masa depan?
Inilah refleksi yang seharusnya kita bawa dari Hari Guru Sedunia. Bukan sekadar merayakan guru, tetapi memastikan bahwa perjuangan guru di ruang kelas benar-benar menghasilkan generasi Riau yang mampu membaca zaman, berpikir kritis, memecahkan persoalan, dan membangun kehidupannya sendiri. ***
Abdullah adalah Anggota DPRD Riau.