
SELATPANJANG - Puluhan ribu hektare lahan sagu yang membentang di Kabupaten Kepulauan Meranti bukan sekadar lanskap alam, melainkan urat nadi perekonomian masyarakat. Demi memastikan potensi besar ini mendapat intervensi yang tepat, pemerintah daerah setempat secara resmi mendorong berbagai produk turunan sagu masuk ke dalam radar pemetaan Komoditas, Produk, dan Jenis Usaha (KPJU) unggulan Provinsi Riau tahun 2026.
Langkah ini dibahas secara komprehensif dalam Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung di Ruang Rapat PUPR Kabupaten Kepulauan Meranti, Jumat (4/9/2026). Pertemuan ini diinisiasi oleh Center for Survey and Academic Development (CSAD) Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN Sultan Syarif Kasim Riau yang bermitra langsung dengan Bank Indonesia (BI).
Direktur CSAD, DR Ade Ria Nirmala, SE, MM menjelaskan bahwa pemetaan KPJU merupakan agenda rutin lima tahunan Bank Indonesia yang sebelumnya juga telah dilaksanakan pada 2015 dan 2021.
"Pemetaan ini esensial karena setiap usaha mikro, kecil, dan menengah membutuhkan bentuk intervensi yang berbeda. Kita perlu menyaring mana saja UMKM yang memiliki potensi dan prospek tinggi untuk kemudian didukung penuh agar berkembang lebih unggul," jelasnya.
Ia memaparkan, penetapan KPJU ini menggunakan pendekatan dari bawah ke atas atau bottom-up, yang disesuaikan dengan kondisi riil serta kebutuhan wilayah. Sebelum forum tingkat kabupaten ini bergulir, tim peneliti telah menyisir data lapangan di sembilan kecamatan yang ada di Kepulauan Meranti. Data tersebut kemudian dikolaborasikan dengan rujukan dari BPS maupun DPMPTSP Riau sebagai landasan untuk menentukan kandidat KPJU unggulan.
Sagu Sebagai Ikon Utama Daerah
Merespons inisiatif tersebut, Sekda Kabupaten Kepulauan Meranti, Sudandri, SH memandang pemetaan ini sebagai peluang emas untuk memperkuat posisi komoditas lokal. Ia memastikan bahwa sagu bukan sekadar tanaman biasa, melainkan sudah lama menjadi ikon yang melekat kuat dengan identitas daerah tersebut.
Hingga saat ini, Kepulauan Meranti tercatat memiliki lahan sagu seluas 40 ribu hektare. Dari luasan tersebut, produksi bahan baku yang dihasilkan mampu menembus angka lebih dari 270 ribu ton setiap tahunnya. Potensi besar ini perlahan telah digarap oleh masyarakat menjadi ratusan varian produk makanan olahan turunan sagu.
"Potensi komoditas sagu kita ini sangat besar. Jangkauan pemasarannya pun tidak lagi terbatas, melainkan sudah menembus pasar lokal, nasional, hingga ke mancanegara," ungkapnya.
Melalui forum lintas sektor yang turut melibatkan para kepala perangkat daerah, perwakilan perbankan, dan sektor koperasi tersebut, Sudandri berharap segala hambatan yang selama ini menjerat pelaku UMKM dapat terurai. Ia meminta pemetaan persoalan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari ketersediaan bahan di sektor hulu hingga persoalan pemasaran di hilir.
"Kami ingin hasil pemetaan KPJU ini tidak berhenti hanya pada daftar komoditas unggulan, tetapi benar-benar ditindaklanjuti melalui program pengembangan dan pemberdayaan UMKM yang nyata di lapangan," pungkasnya. ***