PEKANBARU – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam BEM Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Riau (Unri) menggelar mimbar bebas di depan Kantor Gubernur Riau, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Pekanbaru. Aksi unjuk rasa Jumat (23/10/2026) sore ini dipicu oleh pekatnya kabut asap sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengganggu kesehatan warga selama tiga bulan terakhir.

```htmlAlternatif Judul:Kabut Asap Selimuti Pekanbaru, BEM FKIP Unri Desak Pemerintah Tetapkan Status Bencana NasionalTiga Bulan Terpapar Asap, Puluhan Mahasiswa Unri Unjuk Rasa di Jalan Sudirman Pekanbaru

Membawa bendera almamater dan sejumlah alat peraga pengeras suara, massa menyuarakan keresahan masyarakat atas ancaman Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Beberapa spanduk yang dibentangkan berisi pesan tajam untuk memantik perhatian pengambil kebijakan, diantaranya bertuliskan "Gambut Dijaga Bukan Dibakar, Woi Sadar" dan "Karhutla Membara Pemerintahannya Diam Saja".

Koordinator Lapangan, Muhammad Ikhsan Darmawan menyebutkan bahwa aksi turun ke jalan ini merupakan bentuk perlawanan terhadap lambatnya penyelesaian krisis polusi udara di daerah tersebut. Ia mengingatkan bahwa persoalan ini berakar dari aktivitas pembakaran lahan yang sengaja dilakukan oleh pihak tidak bertanggung jawab.

"Kami menuntut agar pemerintah segera menyelesaikan permasalahan kabut asap ini secara tuntas dan menetapkan karhutla sebagai bencana nasional," tegasnya di hadapan massa aksi.

Menanggapi desakan para mahasiswa, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Provinsi Riau, Muhammad Edi Aprizal, SE menemui langsung para pengunjuk rasa. Ia memastikan bahwa instansinya telah mengupayakan operasi pemadaman secara maksimal melalui jalur darat maupun pantauan udara.

"Kami sangat memahami kondisi yang dirasakan masyarakat saat ini. Aspirasi dari rekan-rekan mahasiswa akan segera kami teruskan kepada pemerintah pusat," urainya.

Edi Aprizal merinci bahwa tim satgas bahkan telah dikerahkan hingga ke wilayah perbatasan, termasuk membantu penanganan di Provinsi Jambi. Namun, proses pemadaman di lapangan kerap terhambat oleh minimnya ketersediaan sumber air. Ia juga membeberkan bahwa pekatnya asap yang menyelimuti Pekanbaru sebagian besar merupakan kiriman dari provinsi tetangga yang terbawa oleh arah angin.

Sebagai langkah penanganan kesehatan jangka pendek, BPBD Provinsi Riau menyatakan telah mendistribusikan sekitar 3.000 lembar masker kepada masyarakat. Usai mendengarkan penjelasan dari pihak pemerintah daerah tersebut, massa mahasiswa mengakhiri mimbar bebas dan membubarkan diri dengan tertib sekitar pukul 16.25 WIB. (wpa)