
Besok, Senin, 12 Oktober 2026, memasuki hari jadi Kuantan Singingi yang ke-27.
Pemerintah dan masyarakat merayakannya dengan upacara.
Ada yang memasang spanduk.
Ada juga yang memperingatinya dengan mengadakan berbagai lomba.
Ada yang membuat ucapan di media sosial.
Dan diadakan pula acara resmi dalam Sidang Paripurna Istimewa di DPRD Kabupaten Kuantan Singingi.
Semua itu memberi makna tersendiri.
Tetapi ada satu bentuk perayaan yang jauh lebih penting: menjadi warga yang lebih baik setiap saat untuk daerah ini, mengisi waktu dengan kegiatan positif dan produktif.
Sebab Kuantan Singingi bukan hanya milik bupati.
Bukan milik DPRD.
Bukan milik ASN.
Bukan milik pengusaha.
Bukan milik partai politik.
Bukan milik tokoh masyarakat.
Kuantan Singingi adalah milik kita semua.
Milik petani.
Milik pedagang.
Milik guru.
Milik akademisi.
Milik buruh.
Milik pelajar, santri.
Milik mahasiswa.
Milik anak muda.
Milik perempuan.
Milik masyarakat adat.
Milik jurnalis.
Karena itu, kita tidak boleh membangun Kuantan Singingi dengan logika “Siapa mendapatkan apa”.
Kita harus mulai membangun dengan pertanyaan: ”Apa yang bisa kita berikan?”
Pemerintah memberikan pelayanan terbaik.
Politisi memberikan gagasan.
Pengusaha memberikan investasi yang bertanggung jawab.
Tokoh memberikan keteladanan.
Media memberikan informasi yang sehat.
Akademisi memberikan pengetahuan.
Pemuda memberikan energi.
Dan masyarakat memberikan partisipasi.
Begitulah rumah bersama dibangun.
Tidak semua orang memegang palu.
Tidak semua orang memasang fondasi.
Tidak semua orang memasang atap.
Tetapi semua orang mempunyai peran.
Kita juga harus berhenti mewariskan dendam politik.
Hari ini mungkin kita menang.
Besok mungkin kita kalah.
Hari ini orang yang kita dukung berkuasa.
Besok mungkin orang lain.
Tetapi jangan sampai pergantian kekuasaan membuat rusaknya persaudaraan.
Politik harus selesai pada saat kontestasi selesai.
Setelah itu, yang tersisa adalah pekerjaan membangun daerah.
Demikian pula konflik.
Kita tidak boleh hidup dengan luka masa lalu.
Luka harus diingat agar menjadi pelajaran.
Tetapi luka tidak boleh dijadikan alasan untuk terus saling melukai.
Begitu juga persoalan hukum.
Kita hormati proses hukum.
Kita hormati asas praduga tidak bersalah.
Tetapi kita juga belajar bahwa kekuasaan harus diawasi.
Tidak ada manusia yang boleh berada di atas hukum.
Dan tidak boleh ada rakyat yang kehilangan haknya hanya karena tidak memiliki kekuasaan.
Inilah rumah yang harus kita bangun.
Rumah yang pintunya terbuka.
Rumah yang aman.
Rumah yang nyaman.
Rumah yang memberi ruang untuk perbedaan.
Rumah yang menjaga adat.
Rumah yang menghormati hukum.
Rumah yang memberi masa depan kepada anak-anak.
Besok, Senin, 12 Oktober 2026, Kuantan Singingi berulang tahun yang ke-27.
Mari jangan hanya bertanya: “Apa yang sudah diberikan Kuantan Singingi kepada kita?”
Mari kita balik pertanyaannya: ”Apa yang sudah kita berikan kepada Kuantan Singingi?”
Mungkin jawabannya belum banyak.
Tidak apa-apa.
Masih ada waktu.
Karena daerah ini belum selesai ditulis sejarahnya.
Dan kita masih menjadi bagian dari penulis sejarah itu. ***
Bersambung...