PEKANBARU - Pekatnya kabut asap sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kota Pekanbaru mulai memicu krisis kesehatan publik. Ribuan warga dari berbagai kelompok usia kini harus berjuang melawan sesak napas dan gangguan saluran pernapasan lainnya, memaksa fasilitas kesehatan di tingkat pertama untuk bekerja lebih ekstra menangani rentetan pasien yang datang silih berganti.

Merespons lonjakan pasien tersebut, Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Pekanbaru, Tekad Abidin mendesak seluruh puskesmas di wilayahnya untuk melipatgandakan kesiagaan. Pelayanan medis yang cepat dan tepat menjadi kunci keselamatan warga di tengah memburuknya kualitas udara akibat pembakaran lahan.

"Yang jelas yang pertama puskesmas mesti melakukan penanganan sebaik mungkin, seoptimal mungkin kepada yang terjangkit ISPA," tegasnya, Selasa (22/9/2026).

Data dari Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru merekam jejak kelam memburuknya kesehatan masyarakat selama 28 hari terakhir. Terhitung sejak 25 Agustus hingga 21 September 2026, tercatat 6.917 kasus penyakit yang menggerogoti warga akibat kualitas udara buruk. Khusus pada laporan harian Senin (21/9/2026) lalu, muncul 241 kasus baru, dimana 231 di antaranya merupakan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Sisanya mencakup satu kasus pneumonia, dua konjungtivitis, enam iritasi kulit, dan satu asma.

Ancaman Nyata Bagi Balita dan Lansia

Ancaman udara beracun ini paling mematikan bagi kelompok usia rentan. Berdasarkan rincian data harian yang sama, puluhan balita terpaksa berhadapan dengan risiko kesehatan serius. Dari 41 balita yang berisiko tinggi, 38 jiwa menderita ISPA, sementara sisanya mengalami pneumonia, iritasi kulit, dan asma.

Kondisi serupa dialami kelompok anak-anak dengan 38 orang terpapar dampak asap secara langsung. Mayoritas dari mereka, yakni 36 anak, terserang ISPA. Sementara itu, 32 warga lanjut usia (lansia) juga tak luput dari paparan kabut asap, mencatatkan 25 kasus ISPA serta rentetan keluhan pernapasan lainnya.

Parahnya intensitas paparan asap bahkan memaksa delapan pasien harus masuk ke ruang rawat inap demi mendapatkan alat bantu dan pemantauan intensif. Pasien rawat inap tersebut terdiri dari dua balita, satu anak-anak, dua remaja, dua orang dewasa, serta satu warga lansia.

Melihat tingginya risiko keluhan ringan yang dapat dengan cepat berujung fatal, masyarakat diminta tidak menyepelekan gejala. Tekad mengingatkan warga untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat sebelum kondisi daya tahan tubuh benar-benar ambruk.

"Kalau memang sudah terasa tidak enak di saluran pernapasannya, jangan sungkan-sungkan masuk ke puskesmas," tuturnya. Ia juga menekankan agar pihak puskesmas tidak ragu menerbitkan rujukan ke rumah sakit daerah jika pasien membutuhkan penanganan ahli spesialis paru atau peralatan medis yang lebih mutakhir.

Layanan Darurat Gratis Menggunakan KTP

Selain tindakan kuratif, upaya perlindungan dari hulu turut menjadi sorotan legislatif. Kolaborasi antara Dinas Kesehatan dan jaringan posyandu dinilai sangat strategis untuk melindungi anak-anak usia dini, salah satunya melalui penyaluran asupan suplemen gratis di tengah krisis udara.

"Mudah-mudahan bisa kerja sama juga Dinas Kesehatan dengan posyandu-posyandu untuk memberikan vitamin-vitamin tambahan untuk anak-anak usia dini itu agar memang imunnya meningkat," harapnya.

Di sisi lain, kekhawatiran masyarakat berekonomi lemah terkait beban biaya pengobatan dadakan dapat sedikit ditekan. Tekad memastikan seluruh warga Pekanbaru memiliki jaminan akses layanan gawat darurat tanpa pungutan biaya, yang ditanggung melalui skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan dibackup oleh anggaran pemerintah daerah setempat.

Bagi warga yang mendadak mengalami sesak napas akut di malam hari, pintu instalasi gawat darurat (IGD) di seluruh rumah sakit wajib memberikan penanganan pertama. Syarat administratifnya telah disederhanakan, sehingga tidak ada alasan bagi pihak rumah sakit untuk menolak pasien darurat.

"Selama dia ber-KTP Pekanbaru silakan ke UGD manapun di Kota Pekanbaru, rumah sakit manapun. Tunjukkan KTP Pekanbaru, insyaallah berobatnya gratis," terangnya.

Sebagai langkah antisipasi kendala di lapangan, masyarakat bisa memanfaatkan layanan panggilan darurat 112 jika membutuhkan evakuasi ambulans atau pertolongan cepat. Petugas operator juga disiapkan untuk membantu mengaktifkan kembali status kepesertaan BPJS Kesehatan warga yang mungkin sedang terblokir karena perubahan data desil kemiskinan, sehingga penanganan medis tetap berjalan mulus. ***