PASIRPENGARAIAN - Ketegangan menyelimuti kawasan perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau. Sekelompok orang tak dikenal (OTK) menyerang puluhan warga yang tengah bekerja di area kebun tersebut pada Jumat (14/8/2026). Insiden memilukan ini melukai sedikitnya 25 pekerja dan menyisakan trauma bagi para korban yang kini mencari keadilan hukum.

Sehari pascainsiden, tepatnya Sabtu (15/8/2026) sore, para korban mendatangi Polsek Tambusai Utara membawa harapan penyelesaian. Polisi langsung memeriksa dan menggali keterangan dari setiap korban. Pemandangan memprihatinkan menghiasi area polsek, di mana beberapa korban terbaring lemah di teras musala menahan nyeri akibat luka memar dan robek di sekujur tubuh.

Korban penyerangan, Gunawan (31) menyebut gerombolan tak dikenal itu menyergap tiba-tiba saat mereka beristirahat di mess pekerja. "Tiba-tiba datang gerombolan orang tak dikenal dengan tiga truk Colt Diesel dan dua mobil double cabin. Mereka berteriak 'serang', jadi kami langsung diserang," bebernya.

Gunawan mendapat hantaman benda tumpul yang merobek bagian hidung dan tangannya. Pelaku juga merampas dua telepon seluler miliknya serta melontarkan ancaman. "Saya juga diancam pakai senjata api, dua ponsel saya dijarah," keluhnya.

Luka fisik tak kalah parah menimpa Rizaldi (44). Hantaman balok kayu mencederai kepala dan tangannya, sementara matanya lebam membengkak akibat tendangan pelaku. "Kepala saya bocor dan tangan dihantam pakai balok kayu, mata saya ditendang, saya diseret-seret seperti PKI," rincinya menahan perih.

Di tengah ketidakberdayaan, Rizaldi dan rekan-rekannya hanya bisa memohon ampun lantaran gerombolan penyerang membawa berbagai jenis senjata. Berdasarkan pendataan awal, satu korban kritis, sementara 28 pekerja lainnya masih terjebak di dalam kawasan kebun dengan kondisi yang belum dapat dipastikan.

Menelusuri Akar Konflik Lahan

Merespons situasi ini, Juru bicara masyarakat, Abdul Aziz mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas insiden tersebut. Pihaknya berencana menyurati Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), hingga Presiden. "Bahkan kami akan surati Presiden. Karena warga memang sedang memperjuangkan hak-haknya," tegasnya.

Aziz menilai akar masalah berpangkal pada sengketa lahan perkebunan kelapa sawit seluas 2.000 hektare di Afdeling 19 dan 21 yang menghidupi 1.015 warga. Bertahun-tahun sebelumnya, masyarakat memercayakan pengelolaan lahan kepada PT Torganda melalui pola bapak angkat bersama Koperasi Karya Bakti.

Memasuki tahun 2025, Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) menyita area tersebut dengan dalih masuk kawasan hutan, lalu menyerahkan pengelolaannya kepada PT Agrinas Palma Nusantara. Hilangnya sumber ekonomi mendorong warga berupaya menguasai kembali lahan mereka.

"Mestinya, pemerintah mengecek dulu apakah lahan yang disita itu benar lahan Torganda atau milik masyarakat, jangan langsung main sita, biar tidak jadi pertumpahan darah seperti ini," tandasnya.

Menyikapi rentetan kejadian, Aziz menduga kuat ada keterlibatan PT Agrinas Palma Nusantara, merujuk pada surat dari kuasa hukum perusahaan yang dikirimkan ke Polres Rohul sehari sebelum penyerangan. Hingga berita ini diturunkan, Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara, Mohammad Abdul Ghani belum memberikan tanggapan resmi saat dikonfirmasi terkait tudingan tersebut.

Menanggapi situasi keamanan di Rohul, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau, Kombes Hasyim Risahondua membenarkan adanya insiden kekerasan fisik itu. Pihaknya langsung mengarahkan para korban untuk divisum, menyusun laporan, dan menggali keterangan awal. "Tindakan selanjutnya, memeriksa saksi-saksi, mencari keberadaan pelaku-pelaku dan melengkapi berkas," pungkasnya. ***