
JAKARTA - Situasi keamanan sipil di Papua kembali memasuki fase kritis pasca-tewasnya seorang pengemudi logistik dan diculiknya kelompok perempuan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB). Kondisi ini mendorong lembaga legislatif mendesak pemerintah agar merespons eskalasi kekerasan tersebut dengan tindakan penyelamatan yang terukur dan menjamin rasa aman warga negara.
Anggota Komisi XIII DPR RI Fauqi Hapidekso menyebut rentetan kekerasan bersenjata ini bukan lagi sekadar isu gangguan keamanan lokal, melainkan tragedi kemanusiaan. Mewakili Fraksi PKB, ia mengingatkan instrumen negara untuk menjamin keselamatan individu yang berada di wilayah berpotensi rawan.
"Mereka memiliki hak untuk hidup aman, bekerja, bepergian dan menjalani kehidupan sehari-hari tanpa rasa takut," ucapnya memberikan keterangan resmi, Minggu (20/9/2026).
Hak Hidup Tak Kenal Batas Wilayah
Fauqi meminta aparat kepolisian tidak gegabah namun tetap bertindak cepat dalam merancang skema evakuasi sandera. Perhitungan matang menjadi kunci utama guna menekan risiko bertambahnya korban jiwa dari kalangan sipil. Ia juga menyoroti nasib keluarga korban yang menanti kabar dari rumah, sehingga transparansi informasi evakuasi wajib diberikan otoritas setempat.
"Dimana pun mereka berada, mereka adalah warga negara yang hak hidup dan keselamatannya harus dilindungi. Tidak boleh ada warga yang merasa bahwa ketika mereka berada di wilayah tertentu, nyawa mereka menjadi tidak berharga," keluhnya menyoroti lemahnya jaminan keamanan.
Daftar Kelam di Bulan Agustus
Tuntutan dari gedung parlemen ini mencuat setelah rentetan aksi fatal yang menyasar masyarakat non-kombatan. Korban tewas terbaru adalah Aris Sanda, sopir travel perantauan asal Toraja. Nyawanya direnggut peluru KKB usai disandera ketika mendistribusikan logistik melintasi jalur Wamena-Mbua, Papua Pegunungan. Sang sopir ditemukan tak bernyawa di dalam mobil miliknya yang telah dibumihanguskan di area Danau Habema.
Sementara itu, wilayah Kabupaten Mimika tak luput dari teror. Kelompok bersenjata dilaporkan menculik sembilan orang perempuan di kawasan Distrik Jila sejak 17 Agustus 2026 lalu. Berdasarkan perkembangan proses evakuasi di lapangan, satu perempuan ditemukan meninggal, satu korban berhasil ditarik keluar dengan selamat, dan tujuh sisanya masih ditawan oleh para pelaku bersenjata.***