
SELATPANJANG – Kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Dorak Port, Selatpanjang, belum bisa dituntaskan tahun ini. Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kepulauan Meranti memilih menggeser pelaksanaannya ke awal 2027 karena waktu yang tersisa dalam APBD Perubahan 2026 dinilai terlalu sempit.
Anggaran kajian tersebut sebelumnya telah diajukan melalui APBD-P 2026. Namun, proses penyusunan AMDAL membutuhkan waktu cukup panjang, sementara proyek pembangunan Dorak Port yang didukung APBN kurang lebih Rp200 miliar direncanakan mulai bergulir tahun depan.
Kepala Dishub Kepulauan Meranti Muhammad Fahri, S.Km melalui Kabid Prasarana dan Keselamatan Hasrizal, S.IP., M.AP., mengatakan penyelesaian kajian diperkirakan membutuhkan waktu paling cepat sekitar 120 hari dan bahkan bisa mencapai lima bulan.
"Pertimbangannya masalah waktu pelaksanaan kajian di APBD-P itu sangat singkat. Maka dari itu kita geser pada 2027 awal," ungkap pria yang akrab disapa Aldo itu.
Dishub menargetkan proses AMDAL bisa bergerak secepatnya setelah anggaran mendapat persetujuan. Langkah itu dinilai penting agar dokumen lingkungan tersebut dapat mengejar tahapan pembangunan Dorak Port.
"Ketika anggarannya sudah disetujui, kita akan mengajukan proses pelelangan pekerjaan setelah APBD 2027 ketuk palu. Ya, paling tidak diakhir tahun 2026 ini sudah mulai bisa di lelang," jelasnya.
Karena itu, Dishub berharap penganggaran kajian AMDAL mendapat dukungan pemerintah daerah dan DPRD Kepulauan Meranti dalam pembahasan APBD 2027. Dukungan tersebut dibutuhkan agar persoalan dokumen lingkungan tidak menghambat kelanjutan pembangunan pelabuhan.
"Dalam hal pembangunan Dorak Port ini, tentunya kami membutuhkan kerjasama dan dukungan dari semua pihak. Sehingga dengan begitu progres bisa terealisasi segera sesuai harapan kita bersama," ucap Aldo.
Persoalan AMDAL sebelumnya menjadi perhatian Ketua Komisi II DPRD Kepulauan Meranti Syaifi Hasan, A.Md. Dia meminta Dishub tidak lengah mengingat pemerintah pusat telah membuka peluang melanjutkan pembangunan Dorak Port melalui dukungan APBN hampir Rp200 miliar.
"Kita tidak ingin hanya karena AMDAL belum selesai, malah pembangunan pelabuhan dari pusat itu jadi molor. Ini harus dikebut terus oleh Dishub," tegas Syaifi, Senin (5/10/2026).
Menurut Syaifi, keberadaan Dorak Port cukup strategis bagi Kepulauan Meranti. Pelabuhan tersebut diproyeksikan menjadi salah satu pusat pelayaran domestik sekaligus aktivitas bongkar muat barang yang dapat mendorong pergerakan ekonomi daerah.
"Tentunya, Dorak Port ini akan menjadi sentral untuk aktivitas pelayaran domestik dan bongkar muat barang. Ini peluang besar meningkatkan ekonomi Meranti. Jadi, jangan sampai AMDAL-nya tidak siap, karena itu wajib ada," ujarnya. ***