JAKARTA, GORIAU.COM - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) mengakui, rata-rata umur lapangan minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia sudah tua. Hal ini menyebabkan produksi dalam negeri tidak maksimal, bahkan cenderung menurun.

Sekretaris SKK Migas Gde Pradnyana mengatakan, dengan lapangan migas yang sudah tua potensi untuk mendapatkan cadangan minyak dan gas lebih banyak hanya sedikit.

"Kalau dulu itu kita tarik minyak yang mengandung air, kalau sekarang kita tarik air yang mengandung minyak. Jadi jelas kualitasnya sudah menurun, sementara kita enggak punya lapangan baru," ucap Gde di Kahmi Center, Jakarta, Selasa (13/5/2014).

Dia menambahkan, hal-hal seperti ini terlihat pada lapangan penghasil minyak terbesar dalam negeri yakni lapangan Minas di Riau yang dikelola oleh PT Chevron Pacific Indonesia.

"Begitu produksi Chevron turun, produksi nasional juga turun, karena kontribusinya besar sekali bagi lifting nasional," tuturnya.

Gde mengungkapkan, sebelumnya produksi Chevron pernah mengalami masa kejaayaan, sehingga 40 persen produksi minyak Indonesia saat itu di sumbang oleh Chevron.

"Menarik, sebagian 40 persen produksi kita berasal dari lapangan dioperasikan Chevron di Riau, sisanya dilapangann KPS lain, tiap tahun segitu saja. Begitu Chevron turun produksinya produksi nasional ikut turun," tegasnya.

Gde melanjutkan, untuk itu, diperlukan dukungan pemerintah dalam mendorong perusahaan-perusahaan migas dalam melakukan eksplorasi atau pencarian sumur-sumur baru. ***