ADA tiga kepala daerah yang ngetop namanya tersebab gaya kepemimpinan yang mudah diingat dan dikenang. Ganjar Pranowo Gubernur Jateng dengan aksinya buka laci di jembatan timbang, Tri Risma Harini Walikota Surabaya meski wanita galak kalau mengetahui ada ketidakberesan di pemerintahannya, yang terakhir Annas Maamun Gubernur Riau yang tak lepas dari mencarut jika ada yang kurang berkenan.

''Tapi ada eloknya jugalah karena mencarut tu, saya jadi dikenal oleh pejabat pusat para menteri di Jakarta. Para menteri pun langsung geleng kepala tetapi dari situ pula kita masuk untuk usulan program dan kegiatan agar pemerintah pusat memperhatikan pembangunan di Riau,'' ujar Gubernur Riau Annas Maamun apa adanya di hadapan penurus tiga organisasi wartawan di Riau PWI, AJI dan IJTI serta Pimred media cetak dan elektronik di rumah dinas Gubernur Riau.

Pada acara yang dikemas dengan tajuk ''silaturahmi Gubernur dan awak media'' itu, sudah dapat diduga, tamu undangan dari berbagai awak media itupun tak dapat menahan untuk tidak meledak tawanya.

Saat itu, Annas menambahkan, berkah dari pemberitaan mencarut akhirnya dirinya sebagai Gubri selalu dicari oleh pejabat dan menteri. Dan Itulah, yang membuat daya tawar Riau diperhitungkan. Sebab seiring dengan itu Annas mengancam Menteri PAN - RB terkait penerimaan CPNS yang dianggapnya tidak berpihak kepada putera tempatan. Prosenya juga perlu dievaluasi sebab yang menerima dan membayar gaji melalui pemerintah daerah tapi yang menentukan kelulusan oleh pemerintah pusat. Annas menyatakan cara ini jelas menyakiti dan tidak adil, kita sudah siapkan akan membawa ke MK tetapi kita tahan dulu sebab Menteri sudah mendengar dan mau menerima masukan kita.

Di kesempatan pertemuan yang saya nilai momentum sangat tepat itu Gubernur juga memberikan penjelasan dan sebut sajalah sekaligus ajang untuk mengklarifikasi berbagai langkah dan sikapnya dengan santai tentang pemberitaan yang bertubi-tubi yamg mengesankan dirinya berlawan dengan para wartawan. Dengan gaya khasnya, Gubernur pun berkata ya wartawan itu banyak eloknya tetapi memang juga ada yang tak eloknya.

Bagi Gubernur dengan pengalaman yang matang sebagai legislatif dan eksekutif rasanya tak diragukan bagaimana menjalin komunikasi dengan wartawan. ''Waktu saya ketua DPRD di Bengkalis, Bagus Santoso itu sering ngepos di rumah dinas saya. Sekarang saja jarang ke rumah setelah jadi anggota dewan, segan agaknyo,'' kata Annas sambil menunjuk ke arah saya yang duduk satu meja dengan Dodi Sarjana, Pimred Tribun Pekanbaru.

Gubernur seakan mengatakan betapa ia selalu menjaga hubungan baik dengan insan pers. Gubernur juga tak menutup pemberitaan yang memberikan masukan untuk kebaikan dan pembangunan daerah Riau. Silahkan saja menulis, sekali- sekali ada berita yang kurang elok itu kan bunga-bunga, supaya lebih hidup dan ramai, taklah semuanya berita akan terus baik. Cuma saya berharap kalau untuk kepentingan membangun daerah terutama agar Riau diperhatikan oleh pemerintah pusat, semua komponen masyarakat sepakat untuk maju dan kompak bersama agar Riau tak dipandang sebelah mata oleh Jakarta.

Contohlah tetangga kita Sumatera Barat, mereka hebat kalau sudah berjuang untuk mendapatkan perhatian dari Jakarta, mereka kompak seia sekata, makanya Sumbar berhasil dan cepat maju baik secara administrasi pemerintahan maupun jatah dana untuk pembangunan sarana dan prasarananya. Pada saat itu, Gubernur juga minta soal rencana pemekaran daerah di Riau agar semua pihak bersepakat sehingga Riau bisa lebin cepat maju.

Dalam tiga kesempatan yang saya hadiri pada acara Gubernur di rumah kediaman acara pertemuan dengan jajaran pimred dan organisasi wartawan Riau, kedua acara di ruangan medium DPR pada kunjungan sekonyong-konyong Gubri dengan Pimpinan dan anggota Banggar, ketua komisi DPRD Riau lalu pertemuan santai antara panitia HPN dan pengurus PWI di rumah kediaman.

Materi yang disampaikan Gubernur tetap sama, persis saat menyampaikan visi misi di rapat paripurna istimewa gedung DPRD Riau setelah ditetapkan oleh KPU sebagai calon gubernur Riau. Gaya komunikasinya sangat simpel, menggunakan bahasa sederhana dengan aksen melayu pohen.

Dari kisah dan penjelasannya itu, ternyata, gaya apa adanya pada sosok Annas telah memikat hati rakyat Riau sehingga Annas terpilih sebagai Gubernur diusianya yang ke 74 tahun. ***

Bagus Santoso adalah Ketua Panitia Hari Pers Nasional (HPN) Tahun 2014 yang juga anggota PWI Cabang Provinsi Riau.