PEKANBARU – Program pengembangan sumber daya manusia (SDM) perkebunan kelapa sawit kembali digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di Riau. Untuk angkatan pertama tahun ini, pelatihan difokuskan pada peserta asal Kabupaten Kuantan Singingi dengan jumlah 33 orang.

Kepala Bagian Umum Balai Besar Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (BBPMKP), Sutrisno Sipahutar, mengatakan kegiatan ini merupakan hasil sinergi bersama BPDP.

“Tahun ini adalah tahun keempat kami dipercaya melanjutkan program penguatan SDM sawit. Kepercayaan ini membuktikan pelatihan sebelumnya memberi manfaat nyata,” ujarnya di Hotel Novotel Pekanbaru, Senin (25/8/2025).

Pelatihan berlangsung 25 Agustus–3 September dengan total 80 jam pelajaran. Peserta akan mengikuti materi teori di kelas, praktek lapangan, hingga kunjungan kerja ke kelompok tani.

Sutrisno menjelaskan, tujuan utama pelatihan adalah memperkuat kelembagaan petani agar lebih mudah berkolaborasi, mengakses bantuan, serta meningkatkan daya saing. Selain itu, peserta juga mendapat pengetahuan tentang kemitraan usaha, kepemimpinan dalam kelompok, serta keterampilan mengelola ekonomi kelembagaan.

“Harapannya, kelembagaan petani sawit bisa lebih mandiri, berorientasi pada usaha berkelanjutan, dan siap menghadapi berbagai tantangan,” tambahnya.

Direktur Tanaman Sawit dan Aneka Palma, Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Baginda Siagian, menekankan pentingnya peningkatan produktivitas sawit rakyat. Dari 16,83 juta hektare luas perkebunan sawit nasional, sekitar 7,3 juta hektare dikelola masyarakat.

“Artinya, kekuasaan terbesar ada di tangan rakyat. Kalau dikelola baik, produktivitas sawit bisa mencapai 5–6 ton per hektare per tahun. Ini angka realistis jika pengelolaan petani diperkuat,” jelasnya.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Syahrial Abdi, menambahkan kelembagaan petani harus dibangun agar tidak lagi bekerja secara individual. Dengan berkelompok, petani akan lebih kuat dalam jejaring dan mampu bersaing dengan perkebunan skala besar.

“Kalau kelembagaan terkelola baik, hasilnya tidak berbeda jauh dengan perusahaan. Pemerintah melalui BPDP juga memberi akses biaya untuk sarana prasarana,” ungkapnya.

Selain pelatihan, BPDP turut mendukung pendidikan anak petani sawit. Hingga kini, lebih dari 1.900 mahasiswa telah menerima beasiswa di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Syahrial berharap semakin banyak petani Riau yang mengakses program peningkatan kapasitas. “Dengan begitu, produktivitas sawit meningkat, keberlanjutan terjaga, dan kontribusinya terhadap ekonomi daerah semakin besar,” pungkasnya. ***