
SELATPANJANG - Warga pesisir kerap bertaruh nyawa saat menghadapi kondisi medis yang mendesak. Keterbatasan akses darat membuat masyarakat sangat bergantung pada armada laut untuk mencapai fasilitas pengobatan yang lebih memadai.
Situasi genting ini mendasari Rapat Dengar Pendapat (RDP) lintas sektor antara wakil rakyat dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kepulauan Meranti, Senin (26/10/2026). Fokus utama pertemuan ini membedah kesiapsiagaan armada medis guna memangkas waktu tunggu evakuasi pasien antarpulau.
Anggota Komisi III DPRD Kepulauan Meranti, Suzami menyoroti celah dalam sistem evakuasi medis wilayah perairan. Ketersediaan kapal medis yang mumpuni menjadi garis pertahanan terakhir bagi keselamatan warga saat kondisi kritis.
"Armada darat maupun laut wajib berada dalam kondisi siap tempur kapan saja. Nyawa warga tidak bisa ditunda, apalagi saat menghadapi situasi yang mengancam keselamatan," tegas Suzami.
Desakan serupa datang dari Anggota Komisi III lainnya, Nina Surya Fitri dan Elvira Nindia Fradista. Keduanya menilai sistem rujukan pasien yang efisien akan langsung menekan angka fatalitas akibat keterlambatan penanganan di wilayah kepulauan.
Merespons desakan tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti, Ade Suhartian memaparkan skema baru untuk meretas kebuntuan akses. Pihaknya tengah membangun jalur kerja sama dengan kabupaten dan provinsi tetangga guna memaksimalkan fungsi armada rujukan.
Skema lintas wilayah ini dirancang untuk memuluskan pergerakan pasien dari kawasan terisolir menuju pusat rujukan utama di Pekanbaru hingga Medan. Langkah taktis ini diambil agar letak geografis tidak lagi menjadi alasan terhambatnya hak sehat masyarakat. ***