PENYELENGGARAAN pendidikan harus dimulai dari bagaimana cara memaknai pendidikan sebagai suatu proses mamanusiakan manusia, karena pendidikan adalah proses, yaitu "proses memanusiakan manusia" seutuhnya. Dimana manusia yang telah dianugerahkan potensi akal dan budi oleh Tuhan yang maha esa allah subahana hu wata’ala, sudah sepantasnya dimuliakan melalui proses memanusiakan manusia.
Jika kita menelisik jauh ke belakang mengenai penyelenggaraan pendidikan konvensional, secara praktis banyak muncul problem yang pada dasarnya bermuara pada lalainya para penyelenggara pendidikan, baik formal, non formal, bahkan informal memposisikan manusia sebagai objek. Dengan pola seperti ini, sangat sulit proses memanusiakan manusia, dan memang sangat sulit untuk dicapai. Peserta didik dipandang sebagai objek yang "tidak tahu", sedangkan guru sebagai subjek yang "serba tau". Guru menjelaskan dan siswa hanya mendengar. Akhirnya, penyelenggaraan pendidikan sebanyak-banyaknya mentransfer pengetahuan kepada peserta didik tanpa memandang fitrah potensi sebagai manusia yang mempunyai keterbatasan untuk mengingat, menerima penjelasan.Pengetahuan seolah-olah sangat terbatas bagi peserta didik, karena sumber pengetahuan lebih banyak bersumber pada guru. Gaya pendidikan seperti ini tidak mendorong peserta didik bereksplorasi mengembangkan pengetahuan dan potensi dirinya.Praktik penyelenggaraan pendidikan dengan gaya tersebut, tidak dapat kita pungkiri sampai dengan saat ini pun masih banyak kita temukan di pekanbaru pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Untuk permasalahan diatas sudah dimunculkan solusi dengan mengaktifkan Student Centre Learnig, dan hal ini sepertinya harus dimulai dengan rasa memiliki yang tinggi terhadap siswa atau peserta didik.***Penulis adalah Wakil Ketua STIE Persada Bunda

