
TELUKKUANTAN – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau meningkat drastis. Sepanjang 2026, tercatat ada 484 kasus DBD.
Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Kuansing, Aswandi, menyatakan bahwa tren peningkatan kasus mulai terlihat drastis sejak bulan April. Jumlah pasien melonjak dari 64 kasus pada April menjadi 101 kasus pada Mei, yang menjadi titik puncak tertinggi sepanjang periode tersebut.
"Penyebab peningkatan kasus DBD yang terjadi dalam enam bulan terakhir dipicu oleh faktor lingkungan dan cuaca," ujar Aswandi kepada GoRiau.com di Telukkuantan, Senin (14/9/2026).
"Curah hujan yang tinggi menyebabkan banyak genangan air yang menjadi sarang nyamuk, ditambah dampak perubahan iklim serta kondisi sanitasi lingkungan yang buruk," tambahnya.
Meskipun terjadi lonjakan angka yang signifikan, Aswandi mengonfirmasi bahwa hingga pertengahan September 2026 tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
"Hingga sejauh ini, belum ada kasus meninggal dunia yang ditemukan oleh petugas Dinas Kesehatan," kata Aswandi.
Tiga wilayah kerja Puskesmas yang mencatatkan konsentrasi kasus terbanyak atau masuk dalam kategori zona merah hingga Agustus yaitu Puskesmas Lubuk Jambi, Puskesmas Gunung Toar, dan Puskesmas Teluk Kuantan.
Sebagai langkah antisipasi, Diskes Kuansing telah menerbitkan surat edaran kewaspadaan sejak awal tahun. Upaya pencegahan difokuskan pada distribusi logistik rapid test DBD, pembagian serbuk larvasida (abate), serta pelaksanaan pengasapan (fogging) di titik-titik rawan.
Aswandi mengimbau masyarakat untuk secara konsisten menerapkan gerakan 3M Plus—menguras, menutup, dan mendaur ulang tempat penampungan air—serta menggunakan losion anti nyamuk dan kelambu saat tidur. Ia juga meminta warga untuk memangkas semak-semak rimbun di sekitar pemukiman dan segera membawa anggota keluarga yang mengalami demam tinggi mendadak ke fasilitas kesehatan terdekat.***