
PEKANBARU - Ancaman kebakaran hutan dan lahan kembali membayangi langit Pulau Sumatera. Pantauan satelit mendeteksi kemunculan lebih dari tiga ribu titik panas yang tersebar di berbagai provinsi, dengan wilayah Provinsi Riau turut mencatatkan belasan titik pada Sabtu (3/10/2026).
Kemunculan titik panas ini mengindikasikan anomali suhu di permukaan bumi. Angka tersebut menjadi peringatan bagi warga dan otoritas terkait untuk mengantisipasi potensi penurunan kualitas udara akibat kabut asap, terutama di daerah rawan terbakar.
Satelit memetakan kemunculan 11 titik panas di wilayah Bumi Lancang Kuning hingga menjelang pergantian hari. Angka ini menyebar di kawasan daratan yang selama ini menjadi wilayah langganan kebakaran lahan gambut.
Berdasarkan data terbaru dari sistem pemantauan, hotspot di Riau tidak menumpuk di satu lokasi, melainkan terbagi ke dalam lima wilayah administratif berbeda.
Meski Riau menunjukkan angka belasan, fokus utama pemantauan Sumatera kini tertuju pada bagian selatan pulau. Dari total 3.167 titik panas di seluruh wilayah Sumatera, mayoritas mutlak berada di bawah garis khatulistiwa.
Keberadaan indikator satelit ini tidak secara otomatis menunjukkan luas atau sumber pasti kebakaran. Potensi asap maupun kekaburan udara yang sampai ke permukiman sangat bergantung pada arah hembusan angin serta kondisi atmosfer lokal. ***