
Kita boleh bangga. Bahkan kita harus bangga. Pacu Jalur telah membawa nama Kuantan Singingi jauh melewati batas daerah. Dunia mulai mengenalnya. Orang datang melihatnya. Media memberitakannya. Ekonomi bergerak di sekitarnya. Dan identitas Kuantan Singingi semakin kuat.
Festival Pacu Jalur 2026 sendiri mengusung tema “Budaya lestari, ekonomi berseri”, dengan harapan transisi ini tidak hanya menjadi pertunjukan budaya tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. (Kuantan Singingi - Pemerintah*)
Ini peluang besar. Tetapi ada pertanyaan yang harus berani kita ajukan: Ketika Pacu Jalur semakin terkenal, apakah kita semakin memahami maknanya?
Jangan sampai kita lebih sibuk menjual gambarnya daripada menjaga nilainya. Jangan sampai kita lebih pandai membuat konten daripada memahami filosofinya. Jangan sampai sorak sorai penonton lebih penting daripada marwah budaya.
Pacu Jalur bukan sekadar perahu panjang. Ia lahir dari gotong royong. Dari kerja bersama. Dari kebanggaan kampung. Dari adat. Dari sungai. Dari masyarakat. Di sana ada nilai kebersamaan. Ada disiplin. Ada kehormatan. Ada persaingan yang sehat. Dan ada kebanggaan kolektif.
Karena itu, semakin mendunia Pacu Jalur, semakin besar pula tanggung jawab kita menjaganya. Kita tidak boleh alergi terhadap perubahan. Budaya boleh berkembang. Teknologi boleh masuk. Sponsor boleh hadir. Ekonomi boleh bergerak. Tetapi jangan sampai komersialisasi menghilangkan karakter.
Beberapa persoalan yang muncul pada pelaksanaan Pacu Jalur 2026 seharusnya menjadi bahan introspeksi, bukan bahan untuk saling mencaci. Ada sorotan terhadap perilaku peserta dan juga persoalan representasi visual budaya dalam materi promosi. (RiauOnline*). Itu semua memberi pelajaran. Semakin besar panggung kita, semakin besar pula tanggung jawab menjaga martabat.
Kita harus membangun standar penyelenggaraan semakin baik. Kebersihan sungai harus menjadi prioritas. Keamanan harus diperhatikan. Pedagang kecil harus mendapatkan manfaat. UMKM lokal harus diberi ruang. Anak-anak muda harus dilibatkan. Budaya harus dijelaskan, bukan hanya dipertontonkan. Dan masyarakat adat harus menjadi bagian penting dalam menentukan bagaimana budaya mereka ditampilkan kepada dunia.
Kalau Pacu Jalur benar-benar ingin mendunia, jangan hanya membawa nama Kuantan Singingi ke dunia. Bawalah juga nilai-nilai Kuantan Singingi ke dunia. Bawa semangat gotong royong. Bawa keramahan. Bawa adat. Bawa kesantunan. Bawa kecintaan terhadap sungai. Bawa penghormatan terhadap leluhur.
Dengan begitu dunia tidak hanya mengenal Pacu Jalur. Dunia akan mengenal jiwa Kuantan Singingi. Dan itulah warisan budaya yang sebenarnya. ***
Bersambung….