Bila marwah tinggal semboyan, dan kekuasaan lupa akan amanah.

Orang tua-tua Melayu telah lama mengingatkan: ”Lupa diri, binasa negeri” (Buku: Tunjuk Ajar Melayu - Tenas Effendy - Bagian 1-PENDAHULUAN, lembaran pertama). Sebuah petuah ringkas, tetapi menyimpan peringatan bahwa sebuah negeri bisa kehilangan marwah bukan karena miskin, melainkan karena manusia di dalamnya kehilangan budi dan lupa akan batas diri.

Ada yang dulu berjuang atas nama rakyat, tetapi setelah berkuasa, suara rakyat terasa mengganggu. Ada yang lantang menjunjung adat, tetapi lupa bahwa marwah bukan terletak pada gelar dan kebesaran, melainkan pada amanah yang ditunaikan. Rupanya, tidak semua yang tinggi kedudukannya, tinggi pula budinya.

Ada yang berubah dari cara manusia memandang dirinya hari ini. Ketika belum memiliki apa-apa, ia berbicara tentang perjuangan. Ketika belum berkuasa, ia menjanjikan pengabdian. Ketika masih berada di bawah, ia pandai memahami kesusahan orang lain. Namun, setelah kedudukan berada dalam genggamannya, perlahan-lahan ia mulai lupa bahwa dahulu dia pernah berdiri di tempat yang sama dengan mereka yang kini suaranya mulai tak didengar.

Barangkali begitulah manusia diuji. Bukan ketika ia tidak punya apa-apa, melainkan ketika ia mulai memiliki sesuatu yang membuat orang lain menundukkan kepala di hadapannya.

Orang Melayu dari dahulu mewariskan sebuah peringatan yang sederhana, tetapi dalam maknanya: lupa diri, binasa negeri.

Sebuah petuah tidak perlu diteriakkan untuk membuat kita berpikir. Sebab, kehancuran sering kali tidak dimulai dari pertengkaran besar, melainkan dari perubahan kecil dalam hati manusia: ketika nasihat mulai dianggap gangguan, pujian dianggap hak, dan kekuasaan dianggap sebagai tanda bahwa dirinya selalu benar.

Padahal, kedudukan tidak pernah menjadikan seseorang lebih tinggi sebagai manusia. Hal itu hanya menempatkannya pada tanggung jawab yang lebih besar. Pangkat boleh membedakan kewenangan, kekayaan boleh membedakan kemampuan, tetapi keduanya tidak pernah menjadi ukuran mutlak bagi kemuliaan budi.

Sayangnya, tidak semua orang mampu membedakan antara dihormati karena amanah dan ditakuti karena kekuasaan. Ada yang mengira diamnya orang adalah karena kebijakannya, padahal mereka mungkin lelah menjelaskan. Ada pula yang menganggap banyaknya pujian sebagai tanda keberhasilan, tanpa menyadari tidak semua orang yang tersenyum benar-benar percaya.

Di situlah orang mulai kehilangan dirinya sendiri: ketika ia lebih mencintai bayangan tentang kebesarannya daripada kenyataan tentang tanggung jawabnya.

Dan negeri perlahan-lahan ikut menanggung akibatnya.

Sebab, negeri tidak hanya hidup dari tanah yang subur, laut yang luas, atau kekayaan yang melimpah. Negeri juga hidup dari kepercayaan.

Ketika kepercayaan dirawat, perbedaan dapat dipertemukan. Ketika kepercayaan dirusak, bahkan kesamaan pun bisa menjadi sumber pertikaian.

Kita boleh membangun gedung yang menjulang, meresmikan berbagai kemajuan, dan berbicara tentang masa depan dengan penuh kebanggaan. Namun, semua itu patut direnungkan kembali apabila kejujuran justru semakin sulit ditemukan, tanggung jawab semakin mudah dialihkan, dan kebenaran harus terlebih dahulu dipertimbangkan siapa yang akan tersinggung.

Sebab, kemajuan yang kehilangan nurani hanya akan melahirkan kemegahan tanpa ketenteraman.

Adat Melayu mengajarkan tentang budi, malu, amanah, dan marwah. Akan tetapi, apa artinya marwah apabila hanya pandai disebut dalam pidato? Apa artinya adat apabila hanya dimuliakan dalam upacara, tetapi diabaikan ketika berhadapan dengan kepentingan? Dan apa artinya membanggakan petuah leluhur apabila kita tidak lagi bersedia mengoreksi diri sendiri?

Jangan-jangan yang kita pertahankan sekarang hanya lambang-lambang kebesaran, sementara nilai yang seharusnya menghidupkannya perlahan-lahan kita tinggalkan.

Ini bukan semata-mata persoalan pemimpin. Ini persoalan manusia. Sebab, siapa pun dapat kehilangan arah ketika merasa dirinya tidak lagi perlu diingatkan. Siapa pun dapat kehilangan marwah ketika kepentingan pribadi ditempatkan lebih tinggi dari kebenaran. Pucuk boleh menjulang, tetapi akar jangan sampai hilang. Sebab, pohon yang lupa pada akarnya hanya menunggu waktu untuk tumbang.

Begitulah negeri. Dari luar tampak megah, tetapi di dalamnya kepercayaan mulai rapuh, kebenaran kehilangan tempat, dan nasihat dianggap ancaman. Adat dipakai sebagai lambang, petuah dijadikan hiasan, sementara nilai yang dikandungnya perlahan ditinggalkan.

Jangan sampai kita sibuk membesarkan nama hingga lupa menjaga marwah; begitu pandai berbicara tentang negeri, hingga lupa menunaikan bakti kepadanya.

Sebab, negeri tidak runtuh ketika tiangnya patah, tetapi ketika orang-orang yang menopangnya kehilangan hati nurani.

Kekuasaan ada batasnya, kedudukan ada akhirnya, dan pujian akan berakhir pada waktunya. Yang tinggal hanyalah jejak perbuatan dan penilaian sejarah.

Maka, sebelum bertanya siapa yang merusak negeri, eloklah kita berkaca: masihkah budi menjadi pegangan, amanah menjadi kewajiban, dan marwah menjadi batas kepentingan?

Ingatlah, Melayu tidak kehilangan martabat karena kurangnya kebesaran, tetapi bisa kehilangan jati diri ketika kebesaran tidak lagi disertai budi.

Lupa diri, binasa negeri. Hilang budi, runtuhlah marwah. ***