PEKANBARU - Tren kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) ke Provinsi Riau tercatat mengalami penyusutan pada pertengahan tahun ini. Meskipun jumlah kunjungan menurun, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau menegaskan bahwa tolok ukur keberhasilan sektor pariwisata tidak lagi sekadar mengejar tingginya angka kedatangan, melainkan lebih difokuskan pada perputaran uang dan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat di sekitar lokasi wisata.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, jumlah kunjungan wisman pada Juli 2026 berada di angka 22.452 kunjungan. Angka ini menandakan penurunan baik secara bulanan maupun tahunan.

"Jumlah wisman ini turun sebesar 8,68 persen dibandingkan Juni 2026 yang tercatat 24.585 kunjungan. Demikian juga jika dibandingkan bulan yang sama pada tahun lalu, mengalami penurunan sebesar 15,96 persen," urai Kepala BPS Provinsi Riau, Asep Riyadi saat memaparkan rilis Berita Resmi Statistik (BRS), Selasa (1/9/2026).

Berdasarkan negara asal, wilayah Asia masih mendominasi pasar pariwisata daerah ini. Wisatawan asal Malaysia menjadi penyumbang terbanyak dengan 9.324 kunjungan atau memegang porsi 41,53 persen. Posisi tersebut disusul oleh turis dari Tiongkok sebanyak 2.013 kunjungan, Filipina 1.602 kunjungan, Singapura 1.213 kunjungan, dan India sebanyak 927 kunjungan.

Lebih lanjut, Asep merincikan jalur kedatangan para pelancong tersebut. Sebagian besar wisman masuk ke Bumi Lancang Kuning melalui pintu pelabuhan laut yang menyumbang angka 53,33 persen, sedangkan sisanya 46,67 persen menggunakan jalur udara. Di samping itu, pelacakan melalui sistem Mobile Positioning Data (MPD) di Kabupaten Bengkalis berhasil merekam sebanyak 16.825 kunjungan.

Geliat Perhotelan dan Lama Menginap

Sejalan dengan menyusutnya angka kunjungan masuk, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Riau pada bulan Juli 2026 juga mengalami sedikit koreksi ke angka 51,18 persen. Terdapat penurunan tipis sebesar 0,34 poin jika disandingkan dengan bulan sebelumnya, namun masih mencatatkan tren positif sebesar 4,60 poin jika dibandingkan periode Juli 2025.

"Jika dirinci berdasarkan kelas hotel, tingkat penghunian kamar tertinggi pada Juli 2026 terjadi pada hotel bintang empat yang mencapai 64,27 persen," terang Asep.

Terkait pola konsumsi akomodasi, tercatat rata-rata lama menginap tamu di hotel berbintang berada di angka 1,33 malam. Namun, turis asing rupanya memiliki kecenderungan menghabiskan waktu lebih lama di Riau dibandingkan wisatawan domestik.

"Rata-rata lama menginap tamu asing yang berkunjung ke Provinsi Riau dan menginap di hotel berbintang pada Juli 2026 tercatat 2,64 malam," tambahnya.

Ekonomi Warga Jadi Tolok Ukur Utama

Merespons dinamika angka statistik tersebut, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi Riau, Drs Supriyadi, MSi menekankan arah kebijakan baru Pemprov Riau. Evaluasi dari pergerakan pariwisata ini akan difokuskan untuk mencapai target Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJMD) Riau 2025–2029.

"Pariwisata Riau tumbuh bukan sekadar dari jumlah kunjungan, tetapi juga dari lama tinggal, belanjanya berapa, berkembangnya usaha masyarakat, terbukanya lapangan kerja, dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat di sekitar lokasi destinasi wisata," tegasnya.

Supriyadi memaparkan bahwa arah pembangunan pariwisata yang berkelanjutan membutuhkan landasan pijak yang kuat. Ia mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk memanfaatkan laporan BPS sebagai kompas dalam meracik strategi penarik minat wisata yang tepat sasaran sekaligus menghidupkan UMKM lokal.

"Pembangunan tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan persepsi, tapi pembangunan harus dibangun berdasarkan bukti. Mari pastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil benar-benar menjawab kebutuhan Riau," pungkasnya. ***