
JAKARTA — Suasana perayaan HUT ke-26 Kota Malinau, Kalimantan Utara, mendadak berubah riuh ketika pengamat politik Rocky Gerung naik ke panggung bersama Iwan Fals. Dalam momen penuh keakraban itu, Rocky secara spontan mengubah lirik salah satu lagu legendaris Iwan berjudul “Sore Tugu Pancoran” menjadi sindiran politik.
Penggalan lirik yang semula berbunyi “anak sekecil itu berkelahi dengan waktu”, diubah Rocky menjadi “anak sekecil itu disuruh jadi wapres”.
Kalimat itu sontak memicu tawa penonton yang memadati area konser di Malinau. Banyak yang menilai sindiran tersebut diarahkan kepada Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden RI sekaligus putra sulung Presiden Joko Widodo.
Video detik-detik kejadian itu pun viral di media sosial dan langsung memantik berbagai reaksi publik.
Dalam rekaman yang beredar, tampak Iwan Fals berdiri di sisi Rocky, memegang gitar sambil tersenyum kaget. Awalnya, Iwan hanya memperkenalkan Rocky kepada penonton sebagai “kawan lama dan pemikir bebas”. Namun, ketika Rocky mulai berbicara, situasi berbalik menjadi lucu sekaligus sensitif.
“Iwan ini lagi bikin lagu, masih dia rahasiakan judulnya. Tentang tadi apa, anak sekecil itu… apa judulnya? ‘Sore di Tugu Pancoran’,” kata Rocky di depan mikrofon.
Tak lama, ia melanjutkan dengan nada bercanda, “Sebetulnya versi awalnya begini: anak sekecil itu disuruh jadi wapres.”
Seketika penonton meledak tertawa.
Sementara Iwan tampak refleks menepuk pundak Rocky sambil berkata, “Cukup, cukup, cukup, cukup,” dengan ekspresi kaget bercampur tawa.
Rocky pun segera turun dari panggung, sementara Iwan kembali memegang gitar dan menenangkan suasana dengan senyum tipis.
Meski berlangsung singkat, momen itu langsung menjadi perbincangan nasional. Warganet terbelah antara yang menilai aksi Rocky sebagai bentuk satire politik yang khas dan yang menganggapnya tidak pantas dilakukan di panggung musik.
Beberapa penggemar Iwan Fals bahkan menyoroti ekspresi sang musisi yang terlihat tak nyaman. “Mas Iwan itu seniman idealis, enggak semua lirik bisa dipakai untuk guyonan politik,” tulis salah satu komentar di media sosial.
Namun, sebagian lainnya menilai interaksi keduanya justru menunjukkan kebebasan berekspresi di ruang publik. “Itu kan gaya Rocky, spontan, cerdas, dan satir. Mas Iwan juga santai kok,” tulis netizen lain.
Usai kejadian itu, konser tetap berjalan dengan suasana hangat. Iwan Fals kemudian mempersembahkan lagu “Bebilin”, lagu tradisional suku Tidung yang diaransemen ulang dengan gaya khasnya. Lagu tersebut menjadi penutup yang penuh haru di tengah malam perayaan ulang tahun Kota Malinau.
“Bebilin ini lagu pesan moral, tentang cinta dan kehidupan. Lagu yang sangat indah dari Kalimantan,” ujar Iwan sebelum memetik gitar dan menyanyikan bait pertamanya.
Lagu yang populer di kalangan masyarakat Tidung itu sebelumnya dipopulerkan oleh almarhum Edy Marwan, Ketua Lembaga Adat Besar Tidung, yang wafat Juli 2025.
Meski sempat diwarnai momen satire Rocky Gerung, malam itu tetap dikenang sebagai perayaan penuh warna — di mana musik, humor, dan politik bertemu di satu panggung yang sama. ***