NAGOYA - Empat kali tampil di Asian Games membuat Maria Natalia Londa punya banyak cerita tentang perjalanan panjangnya sebagai atlet. Di Aichi-Nagoya 2026, atlet lompat jangkit Indonesia itu menempati peringkat kelima.

Namun, hingga saat ini Maria mengaku masih membutuhkan waktu untuk memastikan langkah berikutnya setelah 26 tahun menekuni atletik.

“Yang jelas setiap event itu pasti ada ceritanya sendiri. Jadi untuk Asian Games Nagoya ini happy, karena ini menjadi Asian Games keempat saya. Semua prosesnya sudah berjalan dengan hasil ada di ranking lima, cukup baik,” kata Maria saat ditemui di Rumah Indonesia, Selasa (29/9/2026).

Meski puas dengan proses yang dijalani, Maria mengakui hasil di Asian Games kali ini, bukanlah pencapaian terbaik dalam kariernya. “Kalau jujur, ini bukan hasil terbaik dari prestasi terbaik saya. Semoga nanti ke depannya juga bisa lebih baik lagi,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah Aichi-Nagoya menjadi the last dance, Maria belum memberikan jawaban pasti. “Itu menjadi banyak pertanyaan orang. Lagi mengokohkan hati,” katanya.

Maria mengungkapkan, keputusan untuk meninggalkan atletik bukan hal mudah baginya. Setelah 26 tahun menjalani kehidupan sebagai atlet, ia sempat mencoba keluar dari dunia atletik, tetapi merasa hatinya belum siap.

“26 tahun di atletik, kemarin saya mencoba untuk keluar dari atletik. Ternyata memang hati saya yang belum siap. Semoga saat ini bisa siap. Tapi saya belum tahu nanti kalau memang rezekinya ke depan bisa berlanjut-berlanjut. Kalau memang hatinya sudah mantap untuk istirahat, saya istirahat,” tutur Maria.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan tampil di SEA Games tahun depan, Maria hanya memberikan jawaban singkat sambil melempar candaan kepada pelatihnya. “Pelatih, tolong itu clue-nya,” katanya.

Menurut Maria, Indonesia sebenarnya memiliki cukup banyak atlet muda di nomor lompat jauh dan lompat jangkit. Tantangannya adalah kesempatan bertanding internasional yang masih terbatas.

“Sebenernya kalau untuk regenerasi sendiri atlet lompat jauh dan lompat jangkit di Indonesia itu banyak. Hanya memang selama ini kesempatan pertandingan yang sedikit,” ujarnya.

Ia menjelaskan, nomor tersebut relatif jarang dipertandingkan sehingga atlet hanya memperoleh kesempatan mengikuti beberapa single event dalam setahun dan satu atau dua multi event.

“Semoga ke depannya juga makin banyak atlet-atlet lompat jauh dan lompat jangkit diberi kesempatan untuk pertandingan internasional lainnya,” kata Maria.

Di luar dari keputusan yang akan diambil mengenai kelanjutan kariernya, Maria punya pesan bagi generasi muda yang ingin menjadi atlet Indonesia.

Menurutnya, menjadi atlet tidak semata-mata soal penghasilan. Ada kebanggaan yang nilainya jauh lebih besar ketika seorang atlet mendapat kesempatan membawa nama Indonesia di panggung internasional.

“Anak-anak muda Indonesia menjadi atlet Indonesia itu bukan hanya secara salary saja, tapi satu kebanggaan. Membawa bendera Indonesia di tiang tertinggi itu adalah harga yang tidak pernah bisa dibeli,” ujar Maria. ***