PEMILIHAN presiden bagaimanapun merupakan pertarungan bermartabat, bukanlah perang (seperti perang badar) karena tidak ada yang dipersepsikan sebagai musuh yang harus dikalahkan. Siapapun yang menang dalam permilihan presiden-wapres 2014, memiliki tanggung jawab untuk menciptakan kesejahteraan rakyat. Sekaligus membawa perubahan yang signifikan kearah yang lebih baik.

Pemilihan presiden adalah salah satu bentuk berpolitik, akan tetapi apa yang disuguhkan oleh pelaku-pelaku politik terutama para elit partai politik dari pendukung capres cawapres dalam kampanye pemilu bukanlah pendidikan politik malah dagelan-dagelan politik belaka. Kelihatan betul pembodohan, pembenaran, pembohongan, intimidasi dan yang sangat popular pada kampanye 2014 adalah Kampanye Hitam dan Negatif. Prilaku berpolitik kian kita saksikan sering kali tidak memberi pelajaran positif mengenai politik. Sebuah contoh yang diperagakan kepada rakyat ada koalisi yang dibangun atas dasar kepentingan sesaat dan keuntungan pihak-pihak tertentu. Begitu pula janji-janji begitu mudah dilanggar, komitmen begitu mudah diputar balikkan dan penuh kepura-puraan. Padahal ilmu politik yang dipelajari di perguruan tinggi jelas memiliki prinsip2 serta etika terhadap segala bentuk kebaikan. Bila diterapkan dengan tepat dan baik, politik akan menghasilkan hal yang baik tidak hanya untuk pelaku tapi juga untuk lingkungannya.

Yang merisaukan bahwa berpolitik saat ini menyebabkan orang kehiangan ketulusan dan kehilangan idealisme. Oleh sebab itu jangan disalahkan jika ada orang atau kelompok orang kemudian menjadi antipati dan benci politik, apatis, cuek sehingga partisipasi masyarakat terganggu yang muaranya adalah golput atau tidak memilih. Sekali lagi yang dimunculkan ditengah masyarakat hanyalah maneuver-manuver picisan yang gampang ditebak arahnya.

Kembali kepada judul, Memilih "Yes", Kampanye Hitam "No". Sebagai warga Negara kita punya hak memilih dan dipilih, maka pergunakanlah hak pilih kita sebagai tanda ikut membangun prinsip-prinsip demokrasi, walaupun akhir-akhir ini kecenderungan kampanye hitam terasa begitu gencar dan merusak sendi-sendi demokrasi yang sekaligus bertentangan dengan pancasila. Secara etika terutama kampanye hitam menjelang pemilu jelas tidak dapat dibenarkan. Isinya fitnah karena tidak didasarkan pada fakta, tentu merupakan kepalsuan-kepalsuan dan kebohongan belaka. Memang media massa social cukup berperan tidak bias dihindari dan telah membuat kegaduhan public. Kampanye hitam jelas sasarannya adalah masyarakat menengah kebawah dan jumlahnya cukup banyak di negeri kita sehingga wajar menjadi sasaran empuk. Mereka dianggap mudah terpengaruh yang dapat mendulang suara pada pemilu nanti.

Buat masyarakat yang rasional tentu tidak akan mudah terpancing oleh kampanye-kampanye hitam tersebut. Kita mengharapkan terutama kepada masyarakat menengah kebawah berusahalah atau mulailah bersikap kritis terhadap pilihan kita. Silahkan siapa yang akan dipilih, tapi jangan karena kampanye hitam atau kampanye negatif.

Barangkali bisa memilih calon berdasarkan persamaa-persamaan prilaku dengan kita atau sebaliknya tidak memilih seseorang banyak ketidaksamaannya dengan keinginan kita. Kalau pilihan masih berdasarkan kampanye hitam berarti kita masih berada dalam kelompok masyarakat awam walaupun kita seorang intelektual, berpendidikan tinggi sekalipun. Sudah cukup lama negeri kita ini tertatij-tatih dan terseok-seok karena ulah anak bangsanya sendiri dimana akal sehat dan hati nurani telah "mati" padahal negeri kita dihuni oleh umat islam terbesar didunia. Justru tokoh-tokohnya ikut mematikan akal sehat dan hati nurani alias suilt diteladani.

Semoga pemilu presiden nanti berlangsung aman dan damai sehingga presiden baru kita nanti betul-betul berdasarkan demokrasi murni tidak hasil dari kampanye hitam dan negatif. Selamat mamilih, Dirgahayu Republik Indonesia.***

Drs H Iqbal Ali, MM adalah Ketua STISIP Persada Bunda