JAKARTA- Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo punya cara mencegah korupsi di wilayahnya. Salah satunya dengan membangun sistem untuk menyingkirkan kontraktor nakal dalam pembangunan infrastruktur daerah.

"Saya buat komitmen, sebelum kontraktor menyerahkan bangunannya ke pemerintah daerah, saya minta Unnes (Universitas Negeri Semarang) untuk mengecek langsung hasil pekerjaan," kata Yoyok dalam diskusi antikorupsi, di Jakarta, Sabtu (23/4).

"2015 kemarin, 50 persen semuanya kepotong proyeknya. Mati itu para kontraktornya. Banyak yang kembalikan duitnya. Selama ini kan bablas aja. Kita filter kontraktor bagus,"

Yoyok menjelaskan, setelah dirinya mengetahui ada proyek yang fiktif, maka kontraktor tersebut akan mengembalikan uang kepada Pemerintah Daerah.

"Yang tidak benar ini tereliminasi dengan sendirinya. Dari situ terlihat mana kontraktor yang bagus dan kontraktor nakal," ucap Yoyok.

Selanjutnya sebelum proyek tersebut dibangun, dia menuturkan, pemenang tender proyek harus menandatangani pakta integritas yang berlangsung terbuka.

"Seluruh yang menang tender saya kumpulkan, kepala SKPD, Wakil Gubernur, Sekda, dan LSM saya panggil. Saya suruh baca pakta integritas pemenang lelang. Singkatnya isinya saudara mengerjakan proyek di Batang, uangnya rakyat, jangan sakiti hati rakyat Batang," ucapnya.

Sementara itu, selama menjabat Bupati, Yoyok mengaku, pernah mendapatkan isu yang tidak mengenakan. Adapun isu tersebut mengenai permintaan fee proyek dari orang yang mengaku-ngaku saudara dan kerabat dekat Yoyok.

"Orang tersebut menjual nama saya untuk meminta uang pelicin. Karena ada isu itu akhirnya saya mengeluarkan surat pernyataan yang ditujukan kepada seluruh kepala dinas. Isi surat itu, barang siapa yang ada mengatasnamakan keluarga atau timses saya yang minta fee proyek agar tidak dilayani. Surat ini agar dipasang di belakang kursi dan di atas meja," tutupnya.***