BAGANSIAPIAPI - Siswa SMP Negeri Satu Atap di Kepenghuluan Rajabejamu, Kecamatan Sinaboi, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) harus menelan kenyataan pahit setiap kali menuntut ilmu. Bangunan sekolah yang seharusnya menjadi ruang nyaman untuk belajar kini kondisinya sangat memprihatinkan, menyisakan atap yang bocor, dinding kelas terbuka, serta ketiadaan meja dan kursi belajar yang memadai.

Jika cuaca terik, sengatan matahari langsung menembus lantai kelas yang tak berdinding penuh. Sebaliknya, saat hujan turun, para pelajar kerap basah kuyup terkena tempias curahan air dari atap yang bolong. Kondisi fisik bangunan yang nyaris hancur ini memicu kecemasan para orang tua terhadap kesehatan dan kelancaran belajar anak-anak mereka.

"Kondisinya bahkan lebih parah dari gambaran sekolah di film Laskar Pelangi. Kami sangat berharap pemerintah pusat melihat penderitaan ini dan suaranya bisa terdengar sampai ke Jakarta," keluh salah seorang warga setempat, Sabtu (31/10/2026).

Lantaran bertahun-tahun tak kunjung tersentuh revitalisasi dari pemerintah daerah, para wali murid akhirnya berinisiatif mengambil langkah mandiri. Wali murid sekaligus warga sekitar, Suroso Simamora mengungkapkan bahwa orang tua siswa telah berembuk untuk menggalang dana swadaya yang ditargetkan terealisasi pada tahun 2027 mendatang. Hasil urunan itu nantinya akan digunakan untuk membeli material seadanya seperti seng, papan, dan paku.

"Kami sedih melihat anak-anak belajar dalam keadaan kehujanan di kelas. Karena itu, beberapa orang tua sepakat untuk bergotong royong membeli material dan menyumbangkan tenaga guna memperbaiki kerusakan semampu kami," papar Suroso.

Inisiatif menggalang dana secara mandiri ini menjadi bukti kepedulian masyarakat desa terhadap sarana pendidikan. Dukungan dari lingkungan sekitar juga terus diupayakan, termasuk melakukan pendekatan kepada sejumlah pemilik kebun sawit tempatan yang diklaim bersedia ikut mengulurkan tangan.

"Sudah ada usulan agar pihak komite sekolah atau perwakilan orang tua menyusun proposal guna menggalang dana bantuan dari para pemilik kebun," timpal warga lainnya, Bahar.

Meski masyarakat telah bersedia turun tangan bergotong royong, mereka tetap mendesak agar Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir membuka mata dan segera membenahi fasilitas pendidikan di wilayah pesisir tersebut. Sayangnya, upaya meminta kejelasan dari pemangku kebijakan terkait belum membuahkan hasil.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Rohil, Riwansyah, SSTP MSi belum bersedia memberikan tanggapan resmi mengenai nasib sekolah tersebut dengan alasan kesibukan dinas.

"Saya masih ada kegiatan, nantilah kalau sudah selesai baru kita berjumpa," kilahnya singkat saat dihubungi.

Menyikapi lambatnya respons pemerintah, tokoh masyarakat sekaligus penggiat sosial Bagansiapiapi, Heriandi, SH turut mengambil langkah tegas. Jumat (30/10/2026), ia secara resmi telah melayangkan surat permohonan informasi kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Rokan Hilir guna mempertanyakan alokasi anggaran revitalisasi sekolah.

"Surat permohonan informasi dan klarifikasi sudah kami masukkan. Kami meminta transparansi daftar sekolah penerima bantuan revitalisasi serta sejauh mana progres fisik dari program tersebut berjalan di lapangan," tegas Heriandi. ***