DI ANTARA - kebiasaan negatif yang berkembang pasca reformasi di kalangan bangsa Indonesia adalah “suka bertengkar.â€Â Sikap ngotot untuk mempertahankan kepentingan, walau sudah jelas salah sekalipun, adalah kebiasaan baru yang tumbuh subur dan melahirkan kebiasaan bertengkar di mana-mana.
Disadari atau tidak, elit politik adalah pihak yang paling banyak mempertontonkan kebiasaan itu, dan tanpa mereka sadari, mereka telah berubah menjadi "guru" bagi masyarakat untuk suka bertengkar, sehingga lama kelamaan bangsa ini menjadi bangsa "tengkar" yang tidak mau atau sulit mau menerima kebenaran orang dan mengakui kesalahannya. Perasaan malu menjadi hilang, kebodohan diri menjadi tersingkap, dan dendam kesumatpun akhirnya menjadi penyakit jiwa yang sulit disembuhkan.
Itulah sebabnya Allah melarang kita bertengkar dalam firmanNya Surat al-Anfal ayat 46, "... ta'atilah Allah dan RasulNya, dan janganlah kalian berselisih/bertengkar yang menyebabkan kalian gentar, kehilangan kekuatan, dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."
Ayat itu mengisyaratkan bahwa bertengkar akan membawa dampak rusaknya persatuan sehingga hilanglah kekuataan. Kehilangan kekuatan akan membuat kita lemah, dan kelemahan akan mengakibatkan kegentaran dalam mengahadapi lawan. Oleh sebab itu, sabar dan menahan diri bertengkar adalah sikap yang sangat disukai oleh Allah. Artinya, orang yang menghindarkan dirinya dari pertengkaran akan mndapatkan kekuatan dan perlindungan dari Zat Yang Maha Melindungi. Orang atau kaum yang tidak suka bertengkar akan dilindungi oleh Allah dari jalan yang sesat.
Nabi bersabda, "suatu kaum yang sudah diberi hidayah oleh Allah tidak akan sesat, kecuali bila mereka suka bertengkjar (HR Tirmizi)." Artinya, kaum yang suka bertengkar akan sesat jalan hidupnya.
Lalu, akan sesatkan bangsa Indonesia yang kini suka bertengkar ini? Jawabannya tidaklah perlu dikemukakan lagi. Yang perlu adalah menyadari bahwa syarat untuk menjadi bangsa sesat itu sudah semakin kental di bangsa ini. Terserah, apakah akan memelihara sifat tersebut sehingga masuk jurang, atau kembali ke pangkal jalan sebagai bangsa yang rendah hati, bersedia menerima perbedaan pendapat, lalu mau menerima kebenaran orang lain bila keyakinan yang kita anut ternyata salah.
Menghindari pertengkaran, walau benar sekalipun, adalah sikap kedewasaan yang amat terpuji. Tidak ada yang akan didapat oleh orang yang suka bertengkar, kecuali perasaan sakit hati, atau bahkan dendam dan benci. Keuntungan dan kebaikan diri akan didapat dengan menghindari pertengkaran, bukan dengan membiasakan pertengkaran.
Inilah yang diingatkan Nabi dalam hadisnya yang lain, "barang siapa menghindar dari pertengkaran walau ia benar sekalipun, Allah bangunkan untuknya mahligai di surga yang tertinggi, dan barang siapa yang meninggalkan pertengkaran sementara ia salah, Allah bangunkan untuknya mahligai di pinggir surga (HR Tirmizi).***Â
Penulis adalah Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau.


