
Di bawah kibaran bendera merah putih dan kemegahan dekorasi khas tepian sungai, dua perahu kayu panjang meluncur sengit di atas air digital. Di sebelah kiri, Tuah Kalojengking Indragiri memacu kecepatan, sementara di jalur kanan, Siposan Rimbo menolak untuk kalah. Suara riuh komentator membakar atmosfer, mengabarkan detik-detik krusial saat kedua jalur beradu nasib di antara pancang dua dan tiga.
Namun, ini bukanlah gelanggang Sungai Kuantan yang basah oleh percikan air, melainkan sebuah pertunjukan interaktif di layar smartphone yang disiarkan secara langsung melalui TikTok pada Ahad (13/9/2026) malam, sekitar pukul 20.03 WIB.
Di sudut bawah layar, perintah-perintah interaksi terpampang jelas: dari tombol "Kayuo" yang dipicu gift Mawar, aksi "Luan Menari", "Spriin", hingga jurus pamungkas "Tenaga Super Kebal". Setiap gift yang dikirimkan oleh penonton di rumah seketika berubah menjadi kayuhan nyata, dorongan semangat, dan manuver strategi secara real-time. Di sinilah tradisi tua bertemu dengan denyut teknologi modern—menjadikan penonton tak lagi sekadar saksi pasif, melainkan pengemudi jalurnya masing-masing dalam perebutan gengsi di gelanggang virtual.
Di balik layar kaca yang menampilkan keseruan itu, ada sosok Herpan Triyadi (31), pemuda asli Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Alumni Teknik Informatika Universitas Islam Kuantan Singingi (Uniks) ini tak sekadar meracik baris kode, melainkan mentransfer riuh dan fanatisme tradisi kampung halamannya ke arena digital.
"Inspirasinya melihat betapa besarnya euforia masyarakat kita terhadap pacu jalur, baik yang menetap di Kuansing maupun yang merantau di luar daerah," ujar Herpan kepada GoRiau.com di Telukkuantan.

Ia mencermati bahwa dari tahun ke tahun memang ada game pacu jalur di Playstore, tetapi belum ada yang benar-benar mewakili atmosfer dan aturan main khas Pacu Jalur Kuansing.
Ide tersebut semakin terasah secara tidak sengaja. Awalnya, Herpan hanya melakukan live streaming di akun TikTok miliknya, @herpantry, sembari memamerkan proses pembuatan aplikasi. Saat mencoba merancang simulasi perahu, respons penonton justru meledak.
"Waktu live buat game, banyak penonton minta dihilirkan (dipertandingkan), minta tes ini dan itu. Dari situ mulai buat event Pacu Jalur Virtual. Ternyata banyak yang tertarik, mungkin karena emosi kalah-menang jalur yang didukung, dan ada rasa seperti ikut berpacu di dalam game," lanjutnya.
Proses lahirnya game ini terbilang cukup kilat berkat fondasi ilmu pemrograman dari kampus dan semangat belajarnya yang tinggi secara otodidak. Hanya dalam kurun waktu lima hingga tujuh hari saja, Herpan sudah berhasil merampungkan bentuk dasar prototipe game lengkap dengan lintasan airnya.
Tantangan berikutnya adalah menyambungkan sistem perintah game dengan fitur gift di TikTok. Butuh waktu sekitar dua minggu eksperimen hingga akhirnya perahu kayu digital tersebut bisa melaju secara real-time setiap kali penonton mengirimkan hadiah virtual di layar live stream.
Hasil kerja keras itu terbayar tuntas saat siaran langsung dimulai. Dalam satu kali tayangan live, game ini sanggup menyedot perhatian hingga 6.000 sampai 7.000 total penonton. Di tengah riuhnya lalu lintas digital itu, sekitar 100 hingga 400 penonton bahkan rela stay berjam-jam di dalam ruangan siaran untuk terus mendukung jalur jagoan mereka.
Bagi Herpan, apa yang berjalan saat ini barulah langkah awal dalam memadukan kebanggaan tradisi lokal Kuansing dan tren media sosial Gen Z. Ia menyimpan mimpi yang lebih besar agar karyanya bisa terus berkembang dan dinikmati lebih luas lagi.
"Saya ingin game ini lebih realistis, bisa jadi game 3 dimensi, hadir dalam versi PC maupun Android yang bisa dinikmati masyarakat luas dengan konsep yang lebih matang," tuturnya optimistis.
Dari Penonton, Lewat Layar, Kembali ke Sesama

Antusiasme yang terus membumbung dari hari ke hari ini ternyata tak cuma melahirkan kepuasan visual dan keseruan bermain. Bagi Herpan, riuh dukungan penonton juga membawa misi keberkahan yang ingin ia bagikan kembali ke tanah kelahirannya.
Melihat grafik penonton yang terus melonjak sejak tiga hari pertama meluncurkan game ini, Herpan tergerak untuk menyisihkan sebagian pendapatan yang ia peroleh dari gift penonton. Lahirlah gerakan "Jumat Berkah", sebuah aksi sosial di mana hasil siaran langsung setiap hari Jumat disalurkan penuh untuk menyantuni anak-anak yatim.
"Jumat Berkah ini lahir karena antusias penonton waktu saya live Pacu Jalur Virtual interaktif pada tiga hari pertama tiap hari selalu meningkat. Dari situ lahir Jumat Berkah—hiburan dapat, bermain iya juga, dan beramal tetap jalan," jelas Herpan.
Aksi sosial ini bukan sekadar wacana manis. Pada gelombang pertama, bantuan berhasil disalurkan ke Panti Asuhan Darussalam Pangean. Kebaikan itu berlanjut pada aksi Jumat Berkah berikutnya. Dari riuh ketikan chat dan lelang gift penonton di layar @herpantry, terkumpul dana sebesar Rp2.250.000 yang langsung diserahkan kepada Panti Asuhan Putri 'Aisyiyah Kuansing.
Herpan sendiri menampik jika aksi ini dinamai sebagai sumbangan pribadinya. Pemuda Kuansing ini menegaskan bahwa dirinya hanyalah penyambung lidah dari kebaikan kolektif para penontonnya.
"Saya hanya sebagai perantara. Semua ini berasal dari para penonton yang ikut hadir, meramaikan, dan memberikan dukungan selama Live Pacu Jalur Virtual. Jadi, apa yang kita serahkan merupakan hasil dari kebersamaan kita semua," ungkapnya hangat.
Bagi Herpan, nilai nominal bukanlah poin utama, melainkan tentang bagaimana ruang digital bisa menumbuhkan empati.
"Awalnya kita berkumpul di live untuk menikmati Pacu Jalur Virtual, bercanda dan seru-seruan bersama. Alhamdulillah, dari kebersamaan itu ternyata kita juga bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain."
Lewat jemari Herpan dan dukungan komunitas penontonnya, Pacu Jalur Virtual membuktikan bahwa teknologi dan tradisi tak hanya bisa dikawinkan menjadi hiburan digital yang memikat Gen Z. Lebih dari itu, gelanggang layar kaca tersebut sukses menjelma kran kebaikan yang mengalir nyata—dari penonton, melalui Pacu Jalur Virtual, kembali untuk sesama.***