
JAKARTA - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara terbuka melontarkan ancaman tajam terhadap Iran sekaligus memuji komitmen Indonesia di hadapan para pemimpin dunia. Pernyataan ini disampaikannya saat berpidato pada Sidang Umum ke-81 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, Selasa (22/9/2026) waktu setempat.
Di tengah ketegangan konflik bersenjata yang telah berlangsung hampir tujuh bulan, Trump menegaskan bahwa Washington berada pada persimpangan yang mengharuskannya mengambil keputusan tajam. Ia memberi sinyal kuat untuk membawa Teheran ke meja perundingan atau menghancurkan negara tersebut. Ketegangan di ruang sidang semakin terasa lantaran delegasi Republik Islam Iran juga turut hadir di New York untuk mengikuti rangkaian agenda PBB tersebut.
"Saya harus membuat keputusan besar. Akankah kesepakatan dibuat dengan Iran yang memungkinkan mereka membangun kembali dan menciptakan negara yang jauh lebih hebat, atau haruskah saya memusnahkan Republik Islam dan melakukannya dengan cepat?" ujar Trump.
Ia bahkan menutup gertakannya dengan kalimat bernada keras. "Apakah saya akan menjerumuskan mereka ke neraka tanpa peluang untuk bertahan hidup dan tanpa harapan akan kejayaan atau generasi mendatang?" tegasnya.
Di luar ancaman terhadap Teheran, Trump secara khusus menyoroti peran negara-negara yang berkomitmen menerjunkan personel militer dan kepolisian ke dalam Pasukan Stabilisasi Internasional di Jalur Gaza. Misi kemanusiaan ini berjalan di bawah naungan Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP).
Nama Indonesia secara eksplisit disebut oleh Trump sebagai salah satu pilar penopang stabilitas tersebut. "Saya juga ingin berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah berkomitmen mengerahkan pasukan, termasuk Indonesia, Maroko, Albania, Kosovo, Kazakhstan, Mesir, Yordania, dan yang lain," paparnya dari podium utama.
Pemerintah di Jakarta sebelumnya memang merencanakan pengiriman hingga 8.000 personel untuk mendukung misi kemanusiaan dan perdamaian di kawasan Gaza. Meski demikian, pergerakan proyek perdamaian ini terpaksa tertunda sementara waktu menyusul meletusnya eskalasi militer langsung antara Washington dan Teheran.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menepis isu miring yang menyebut pasokan logistik militer Amerika Serikat mulai menipis akibat perang panjang tersebut. Ia membantah laporan internal Pentagon dan mengklaim pabrik amunisi dalam negeri justru sedang beroperasi pada kapasitas tertingginya.
"Para pengecut dan pengkhianat ingin mengatakan bahwa Amerika Serikat kekurangan amunisi, tetapi itu tidak benar," kilahnya.
Ia memproyeksikan pergeseran konflik ke arah diplomasi baru akan terjadi setelah Pemilu Paruh Waktu Amerika Serikat usai. Ia meyakini kubu Teheran saat ini sedang memantau dinamika politik internal di Washington sebelum mengambil langkah lanjutan. "Amerika Serikat dan Iran pasti akan menyelesaikannya. Kita akan menyelesaikannya, dengan cara apa pun. Itu harus diselesaikan dengan cepat," tandasnya.
Pidato tersebut turut menyinggung konstelasi geopolitik di kawasan Barat. Delegasi Kuba dilaporkan melakukan aksi keluar ruangan saat Trump melontarkan kritik pedas terhadap pemerintah Havana. Trump menyebut tidak akan membiarkan musuh asing berlindung dan mengancam Amerika dari wilayah terdekatnya.
Sebaliknya, ia justru memuji sikap kooperatif Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, terkait kesepakatan pasokan minyak. Kerja sama energi ini dinilainya efektif menekan lonjakan harga bahan bakar minyak di Amerika Serikat akibat imbas pecahnya perang dengan Iran.
Menutup rentetan pidatonya, Trump mengklaim telah mengamankan kesepakatan baru dengan Greenland dan Denmark. Kesepakatan ini memberikan akses kendali militer yang jauh lebih luas bagi Amerika Serikat di pulau strategis tersebut dengan dalih mengamankan wilayah benua Amerika dan Eropa. ***