PEKANBARU - Suatu bisnis yang didirikan untuk mencari keuntungan semata tidak akan bertahan lama. Demikian dikatakan oleh Drs. R. Bambang Sutikno, MBA pada acara Studium General Entrepreneurship di Kampus Politeknik Caltex Riau (PCR) yang dilangsungkan pada, Senin (9/5/2016).

Ditambahkan Bambang, tujuan didirikannya suatu usaha disamping mencari keuntungan juga sarana pengabdian untuk menyediakan barang dan jasa serta tanggung jawab sosial terhadap warga masyarakat di mana usaha itu didirikan. Oleh karena itu, etika bisnis dalam berusaha sangat diperlukan.

Penulis buku "Sukses Bahagia dan Mulia dengan 5 Mutiara Kecerdasan Spritual" ini, lebih lanjut mengatakan bahwa praktek etika bisnis dalam berusaha akan selalu menguntungkan baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang.

Beberapa keuntungan yang didapat antara lain, mencegah kemungkinan terjadinya friksi, baik intern maupun eksternal perusahaan sehingga menjadi lebih efisien.

Kemudian, lanjut Bambang, meningkatkan motivasi kerja para karyawan. Yang tak kalah penting, menjunjung prinsip kebebasan berniaga dalam batas moral dan hukum.

Tidak hanya itu, kata dia, meningkatnya daya saing usaha karena adanya dorongan yang diakibatkan persaingan bisnis yang sehat. Sebaliknya, tindakan tidak etis yang dilakukan oleh pewirausaha akan memancing balasan dari pesaing, konsumen maupun masyarakat yang kontradiktif dengan pewirausaha tersebut.

"Hal ini tentu saja dapat mempengaruhi menurunnya nilai usaha dan menurunya hasil penjualan uasaha tersebut. Dengan demikian dapat dipahami oleh pewirausaha pemula betapa pentingnya etika bisnis dan berusaha," beber Bambang.

Senada dengan itu, Dr. H. Nurpit Junus, MM yang menjadi dosen pengampu mata kuliah Entrepreneurship pada PCR mengatakan bahwa Proses Belajar Mengajar (PBM) untuk mata kuliah ini di PCR berbeda dengan di kampus lain. Diantara 16 kali pertemuan, empat pertemuan diantaranya dilakukan dalam bentuk kuliah umum, populer dengan istilah Studium General Entrepreneurship.

Dosen tamu yang diundang untuk mengisi studium general ini adalah orang yang kaya akan praktek atau pelaku bisnis.

"Bukan orang dari akademik yang hanya kaya teori tetapi miskin praktek. Pada tahun ajaran ini tercatat sebanyak 330 orang mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini," pungkas Nurpit.(rls)