JAKARTA – Kegaduhan menyusul temuan peserta deklarasi berseragam almamater palsu di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat menuai reaksi luas. Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad beserta pihak Polda Metro Jaya selaku penyelenggara akhirnya merilis permintaan maaf secara terbuka.

Peristiwa yang bergulir Kamis (29/10/2026) lalu tersebut memantik kritik keras setelah sejumlah pemuda tertangkap kamera tidak mampu menjawab identitas universitas mereka, padahal sedang mengenakan jaket kampus kenamaan. Agenda bertajuk Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 itu dituding menggunakan jasa massa sewaan.

Merespons gelombang kritik publik, Raffi memberikan penjelasan lewat akun Instagram resminya, Minggu (1/11/2026). Ia memposisikan dirinya murni sebagai tamu undangan dari instansi kepolisian.

"Saya hadir dengan niat tulus dan iktikad baik, tanpa niat merendahkan semangat perjuangan generasi muda. Namun, saya memohon maaf atas kegaduhan yang timbul," sesalnya.

Ia mengakui polemik ini menjadi teguran keras baginya agar lebih teliti membedah latar belakang dan kelengkapan sebuah acara publik sebelum memutuskan hadir menampakkan diri.

Praktik manipulasi identitas peserta acara ini terkuak nyata dari mulut dua pesertanya, Bayu Setiadi alias Dino dan Sari Putri. Dino, yang sebelumnya terekam mengenakan almamater Universitas Dian Nusantara (Undira), mengakui keterlibatannya murni demi imbalan finansial.

"Saya mengikuti acara deklarasi berdasarkan undangan dari komunitas dan saya dibayar," bebernya.

Dino menyebut jaket tersebut sekadar atribut yang dibagikan kepadanya tanpa ia ketahui asal usulnya. Senada dengan hal itu, Sari yang memakai atribut Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) juga mengaku menerima pakaian tersebut dari sosok tidak dikenal saat di lapangan. Kedua individu ini secara terpisah telah merilis video permohonan maaf kepada pihak institusi perguruan tinggi yang bersangkutan.

Menyikapi sorotan tajam publik atas rentetan kejadian ini, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto mengambil alih tanggung jawab. Pihaknya mewakili institusi meminta maaf kepada masyarakat dan menjernihkan posisi para tokoh publik yang terseret.

"Saudara Raffi Ahmad dan Saudara Willie Salim datang atas undangan kami selaku penyelenggara. Keduanya berniat baik untuk turut memaknai Sumpah Pemuda. Kami menerima setiap kritik dengan lapang dada untuk menjadi bahan evaluasi," terangnya.

Kreator konten Willie Salim yang turut terlihat hadir di lokasi juga melontarkan penyesalan serupa. Lewat media sosial pribadinya, Willie memastikan dirinya tidak memiliki andil dalam panitia penyelenggara maupun pengaturan massa. Ia membantah menerima bayaran dan berjanji akan lebih mawas diri dalam menelaah konteks agenda massa di masa mendatang. ***