
PEKANBARU - Ratusan bibit pohon kini bersiap menghijaukan kawasan SMP Negeri 40 Pekanbaru. Langkah nyata pelestarian alam ini diwujudkan oleh Barisan Tampar Marsipagodangan (BTM) melalui penyerahan 700 bibit tanaman sebagai upaya membangun karakter peduli lingkungan sejak dini bagi generasi muda.
Kepala SMP Negeri 40 Pekanbaru, Indrawati, MPd beserta majelis guru dan siswa menyambut langsung inisiatif lingkungan tersebut. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pelestarian alam merupakan tanggung jawab bersama, termasuk bagi dunia pendidikan, dan bukan semata-mata tugas pemerintah.
Sebelum bibit ditanam ke tanah, para siswa berkumpul di halaman sekolah untuk menyerap edukasi ekologi. Pemateri sekaligus akademisi lingkungan, Dr Muhammad Yogi Riyantama Isjoni, MM membedah pentingnya membentuk karakter hijau sejak usia sekolah.
Terdapat tiga pilar utama yang disuntikkan kepada para pelajar, yakni kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian. Kedisiplinan mencakup kebiasaan menjaga kebersihan serta merawat tanaman secara konsisten. Tanggung jawab berarti sadar akan peran menjaga keseimbangan alam, sedangkan kepedulian mendorong generasi muda turun tangan langsung dalam aksi penghijauan.
"Menanam pohon bukan sekadar memasukkan bibit ke dalam tanah, tetapi ini adalah investasi kehidupan yang manfaatnya akan dipetik oleh generasi mendatang," jelasnya.
Ketua BTM, Muhammad Rustam, SH didampingi Wakil Ketua BTM, Amri Taupiq, SH MH menuturkan bahwa donasi 700 bibit ini adalah langkah konkret untuk memperluas kawasan hijau di area sekolah.
"Tujuan kami tidak berhenti pada penyerahan bibit, tetapi memastikan anak-anak sadar bahwa lingkungan adalah warisan. Gerakan ini harus menjadi bagian dari pendidikan karakter, di mana mereka terbiasa merawat tanaman dan peduli pada masa depan bumi," tegasnya.
Apresiasi mengalir dari pihak sekolah. Kepala SMP Negeri 40 Pekanbaru, Indrawati, MPd menilai bantuan ini berdampak besar bagi ekosistem sekolah sekaligus menjadi sarana belajar langsung bagi siswa.
Ia berharap sinergi ini tidak berhenti pada satu agenda saja, melainkan berlanjut melalui Memorandum of Understanding (MoU) sebagai pijakan kolaborasi jangka panjang. Wacana tersebut disambut positif oleh BTM yang menempatkan institusi pendidikan sebagai mitra utama gerakan peduli lingkungan.
Secara ekologis, pepohonan ini diproyeksikan membuat sekolah lebih rindang, menyerap polusi, dan memperkaya keanekaragaman hayati. Dari sisi edukasi, siswa didorong untuk tidak sekadar berdiam sebagai penerima manfaat, tetapi tampil menjadi motor penggerak penghijauan di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat luas.
Ke depan, BTM berkomitmen melebarkan sayap gerakan aktivis hijau dengan merangkul kampus, organisasi kepemudaan, serta berbagai elemen masyarakat guna memastikan bibit yang ditanam tumbuh memberikan manfaat jangka panjang.
"Kami ingin meninggalkan warisan yang nyata. Bukan sekadar wujud fisik bangunan, melainkan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan yang kesadarannya kita bangun dari sekolah," tutupnya. ***