SIAK SRI INDRAPURA, GORIAU.COM - Di Kabupaten Siak, jembatan tidak hanya berfungsi sebagai sarana penghubung untuk transportasi darat, tetapi juga tempat rekreasi bagi masyarakat, khususnya pasangan muda-mudi yang sedang dimabuk asmara.


Lihat saja di jembatan Perawang. Setiap hari, dipenghujung senja, saat mentari pulang keperaduan, puluhan pasang muda-mudi asyik memadu kasih di atas sepeda motor. Mereka begitu bahagia. Sembari menikmati hamparan kebun sawit di sisi kiri dan kanan jembatan, pasangan dimabuk cinta itu tak peduli dengan kondisi disekitarnya. Saat si laki-laki mulai memainkan jurus gombalnya, seketika itu pula si perempuan terbuai, terbang hingga langit ketujuh. Malampun semakin larut, hanya sedikit kata yang terdengar, namun tangan mereka mulai aktif begerilya.


Ternyata, ada juga pihak yang diuntungkan oleh puluhan pasangan muda-mudi yang asyik pacaran di Jembatan Perawang. Mereka adalah pedagang keliling menjual makanan, minuman dan buah-buahan.


Saat GoRiau.com singgah di Jembatan Perawang sekitar pukul 19.00 WIB, Jumat (14/11/14) malam, Udin, salah seorang penjual keliling menceritakan pengalamannya selama berjualan di Jembatan Perawang.


Dikatakan Udin, meski disepanjang jembatan ada lampu penerangan, hal itu tidak menyurutkan niat pasangan muda-mudi untuk memadu kasih. Semakin larut, mereka semakin berani berbuat hal-hal yang dilarang norma agama.


"Mereka ini tak ada malu bang, semakin malam, suara mulai tak terdengar, tapi tangan mereka semakin aktif bekerja. Kita yang jualan ini dianggap rumput yang bergoyang," kata Udin.


Dikatakan Udin, sejak jembatan mulai dibangun, dirinya sudah berjualan di atas jembatan Perawang ini. Kalau musim panas, Udin mengaku bisa memperoleh keuntungan di atas Rp100 ribu per hari.


"Gimana lagi bang, bagi saya tak masalah, yang penting mereka yang pacaran di dekat saya harus belanja. Kalau tak mau belanja, saya suruh aja jauh-jauh," ujarnya.


Hal yang sama juga dikatakan Warno. Penjual jagung dan kacang ini tak peduli dengan tingkah laku mereka yang pacaran. Bagi Warno, bagaimana dagangan laris, itu yang terpenting.


"Namanya juga lagi dimabuk asmara bang, kalau udah di sini, istilahnya dunia milik kita berdua, yang lain ngontrak. Saya pernah muda juga dulu. Ini juga salah pemerintah, kenapa tak dibuat pos penjagaan di ujung jembatan, jadi tak ada yang mengawasi, sehingga siapa pun berbuat apa saja di jembatan ini," jelas Warno.


Kalau udah memasuki pukul 22.00 WIB, apalagi malam minggu, perilaku mereka yang pacaran sudah di luar batas.


"Gimana saya mau ceritakan, abang paham sendiri lah. Hanya baju aja yang tak mereka buka, masing-masing pasangan sudah sibuk dengan pasangannya, kita nonton gratis," pungkasnya.(nal)