BENGKALIS - Pendekatan khusus untuk merubah perilaku higienis dan saniter melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara melakukan pemicuan di wilayah Kabupaten Bengkalis, bisa dikatakan berjalan sukses. Hal itu dibuktikan dengan berhasilnya Bengkalis meraih peringkat pertama pada program STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) tingkat Nasional.

Hal itu disampaikan Sekretariat STBM Kementrian Kesehatan RI Jakarta, Rus Ardhianto melalui Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis, Mohammad Sukri kepada GoRiau.com, Selasa (27/9/2016).

"Sebelumnya kita masih berada di urutan ke 6 tertinggi se Indonesia. Mengapa bisa naik menjadi peringkat pertama itu karena adanya penambahan 60 kepala keluarga di Kabupaten Bengkalis dari BABS (buang ahir besar sembarangan) ke jamban sederhana," ujar Mohammad Sukri.

Dijelaskannya sedikit mengenai program STBM-Smart ini berjalan sukses berkat kerjasama Tim STBM Kabupaten serta Puskesmas di wilayah Kabupaten Bengkalis dengan masyarakat melalui pengiriman data via sms monitoring berbasis website STBM.

"Ini prestasi luar biasa untuk Kabupaten Bengkalis yang mampu bersaing menjadi yang terbaik dari 504 Kabupaten se Indonesia tahun 2016 ini. Tujuan dari program yang akan membuat masyarakat dapat menerapkan pola hidup sehat ini otomatis akan menimbulkan kesadaran individu atau kelompok dengan menyentuh perasaan, pola pikir dan perilaku kebiasaan," kata M Sukri.

Selain itu juga, lanjut M Sukri, keberhasilan kemajuan data akses jamban ini juga tidak lepas dari komitmen pemerintah Kabupaten Bengkalis. Dibuktikannya dengan adanya dukungan regulasi seperti instruksi Bupati Bengkalis 2015 dan 2016 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.

"Adanya sinergitas lintas sektor antara Pokja AMPI, Kabupaten Bengkalis, Tim STBM Dinas kesehatan Bengkalis, Seksi Kesehatan Lingkungan pada Bidang PMKL, fasilitator dan pengelola Program Kesehatan Lingkungan di UPT Puskesmas se Kabupaten Bengkalis, Camat, Lurah/Kades, masyarakat serta dukungan dari DPRD Bengkalis," pungkasnya lagi.

Ditambahkan Kepala Bidang PMKL Dinas Kesehatan Bengkalis, Irawadi, sistem monitoring dan evaluasi STBM ini dikembangkan dengan tujuan untuk memudahkan proses penyampaian data dari tingkat Desa/Kelurahan, Puskesmas, Kabupaten, Provinsi hingga tingkat nasional.

"Dalam hal ini sistem monitoring disiapkan dalam dua cara memasukan dan memperbaharui data, yaitu menggunakan website STBM dan menggunakan SMS. Sehingga data perkembangan sanitasi total berbasis masyarakat khususnya pilar 1 stop buang air besar sembarangan dapat terupdate dengan baik dan dapat dimanfaatkan untuk mengukur nikerja terhadap capaian target," imbuh Irawadi didampingi Bidang seksi Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan bengkalis, Edi Sudarto. ***