
SIAK – Sejak tahun 2019, Nur Halimah mendedikasikan waktunya sebagai penggerak di Posyandu Kamboja 10, Kampung Lubuk Dalam, Kabupaten Siak. Menjadi ujung tombak kesehatan masyarakat pedesaan menuntut tanggung jawab berlapis, mulai dari memantau bobot tubuh balita hingga memastikan anak-anak di wilayahnya mendapatkan asupan gizi yang memadai.
Kini, peran fasilitas kesehatan tingkat desa tersebut terus mengalami perluasan. Berpedoman pada konsep Integrasi Layanan Primer (ILP) dari pemerintah, fokus pendampingan tidak lagi terbatas pada kelompok balita, melainkan menjangkau berbagai rentang usia warga. Dinamika ini mengharuskan para kader di garis depan untuk rutin memperbarui pengetahuan dan keterampilan teknis penanganan medis dasar mereka.
Melihat kebutuhan di lapangan, PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) melalui program Community Development (CD) mengambil peran untuk memberikan dukungan struktural. Bantuan yang disalurkan mencakup program pelatihan berkelanjutan, edukasi gizi holistik, serta penyediaan peralatan medis dasar yang disesuaikan dengan kondisi riil masing-masing desa binaan.
Head of CD RAPP, Ferdinand Leohansen Simatupang menjelaskan bahwa penguatan kapasitas sumber daya manusia di garda terdepan merupakan langkah penting. Ia memposisikan para kader sebagai jembatan penghubung yang mengaitkan sistem layanan kesehatan formal dengan masyarakat di tingkat akar rumput.
"Dengan pembekalan berkelanjutan, kami berharap para kader di desa mampu memberikan pendampingan yang lebih akurat. Tujuannya agar informasi medis yang diterima keluarga bisa diterapkan dengan baik sesuai porsi dan kebutuhan mereka," paparnya.
Langkah peningkatan layanan kesehatan desa ini tidak hanya terpusat di Siak. Hingga saat ini, inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan telah merangkul 320 posyandu yang tersebar di 138 desa. Cakupan program tersebut melintasi perbatasan Kabupaten Pelalawan, Kampar, Kuantan Singingi, Siak, serta Kepulauan Meranti.
Berdasarkan catatan sejak 2022, program peningkatan kapasitas ini telah memfasilitasi 2.885 peserta yang terdiri dari kader posyandu dan tenaga medis puskesmas. Materi pembekalan mengupas berbagai aspek taktis, meliputi strategi pemenuhan gizi ibu dan anak, teknik pemantauan tumbuh kembang, keterampilan komunikasi publik, hingga standar pengukuran pertumbuhan fisik anak.
Dampak dari kolaborasi lintas sektor ini turut dirasakan langsung oleh tenaga kesehatan setempat. Bidan Desa Kampung Lubuk Dalam, Rianita menilai penyegaran keilmuan secara berkala mutlak diperlukan agar pendamping warga tidak tertinggal oleh cepatnya arus informasi medis.
"Pelatihan yang didukung CD RAPP ini sangat menunjang kinerja harian. Teman-teman perlu rutin mendapatkan penyegaran materi agar wawasan dan cara penanganan mereka di lapangan terus berkembang," terangnya.
Bagi Nur Halimah serta ribuan kader desa lainnya, proses mengasah keahlian ini mempermudah mereka dalam merespons kebutuhan medis warga secara sigap. Upaya menjaga kualitas kesehatan di pedesaan ini merupakan bagian dari perwujudan komitmen pilar Inclusive Progress yang digagas dalam visi APRIL2030 perusahaan. ***