PEKANBARU - Penggunaan gambar dan ikon sejarah pada berbagai publikasi serta tampilan visual di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru memantik perhatian dari kalangan pengamat sejarah. Penempatan simbol budaya di pintu gerbang utama Provinsi Riau tersebut dinilai harus melalui kurasi visual yang tepat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman bagi pendatang maupun masyarakat lokal.

Sekretaris Barisan Tampar Marsipagodangan (BTM) sekaligus alumni Sejarah Universitas Riau (Unri), Egoprayogo, menilai langkah pengelola bandara untuk menampilkan identitas daerah patut diapresiasi. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa setiap simbol visual membawa narasi dan latar belakang yang tidak boleh melenceng dari fakta aslinya.

"Tujuannya tentu baik, apalagi bandara merupakan pintu masuk Provinsi Riau dan menjadi ruang yang sangat strategis untuk memperkenalkan sejarah dan budaya daerah. Tetapi kita harus bijak dan cermat dalam menggunakan ikon-ikon sejarah, karena setiap simbol memiliki latar belakang dan makna tersendiri," urainya.

Menurutnya, representasi sejarah di ruang publik bukan sekadar urusan estetika tata ruang. Apabila terdapat ornamen atau gambar yang berpotensi memicu multi tafsir, hal tersebut bisa mengaburkan esensi informasi sejarah yang sebenarnya ingin disampaikan kepada publik.

Oleh karena itu, ia menyarankan pihak terkait untuk bersedia mengevaluasi dan mengganti visual yang dirasa kurang pas. Penggantian tersebut diarahkan pada gambar yang lebih akurat, informatif, dan sejalan dengan literatur daerah tanpa memunculkan persepsi yang berbeda.

"Saran saya, apabila ada penggunaan ikon yang berpotensi menimbulkan multi tafsir, sebaiknya segera diganti dengan gambar atau simbol yang lebih sesuai. Bukan berarti kita menolak tujuan baiknya, tetapi justru kita ingin agar pesan yang disampaikan benar-benar tepat dan tidak menimbulkan persoalan baru," terangnya.

Sebagai lulusan Sejarah Unri, ia memiliki harapan agar infrastruktur transportasi publik sekelas bandara internasional mampu berfungsi optimal sebagai sarana edukasi. Wajah pertama Provinsi Riau yang dilihat oleh banyak orang saat mendarat di Pekanbaru dinilai sangat efektif untuk menanamkan wawasan kebudayaan lokal.

"Jadikan bandara sebagai ruang edukasi sejarah. Kita bisa memperkenalkan sejarah Riau dengan cara yang menarik, tetapi tetap berdasarkan konteks dan sumber sejarah yang tepat," pungkasnya. ***