PEKANBARU -   Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR) Dr drh Chaidir mengungkapkan tantangan dinamika perpolitikan di Indonesia semakin hari semakin berat.

Hal tersebut disampaikan Chaidir saat menjadi narasumber dalam 'Rumpi Politik' yang digelar oleh Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Golkar Riau, di Kantor DPD Golkar Riau, Sabtu (13/11/2021).

Sebagai partai yang sudah mengakar di masyarakat Indonesia, Chaidir menyebut ini sebagai tantangan bagi Partai Golkar, dan Golkar harus bisa menyesuaikan diri dengan perubahan zaman ini.

"Demokrasi ini mengidap banyak penyakit, antara lain Pemilu yang belum Jujur Rahasia dan Adil (Jurdil), belum lagi masalah kedewasaan politisi dan Parpol. Demokrasi kita demokrasi prosedural, miskin nilai," ujar Chaidir yang juga Dosen Pascasarjana Universitas Riau ini.

Dalam demokrasi, lanjut Chaidir, ada nilai-nilai kemerdekaan, kebebasan, kebersamaan, dan nilai persaudaraan. Nilai persaudaraan inilah yang belum terlihat dalam sistem politik Indonesia, dan dia mengatakan demokrasi di Indonesia minus persaudaraan.

"Banyak ungkapan bahwa sebagai lawan politik, jika bisa diinjak, diinjak sajwq walaupun sampai kubur. Rasa persaudaraan inilah yang sulit tercipta dalam sistem demokrasi," terangnya.

Chaidir kemudian mengutip pendapat dari Sosiolog asal Perancis yang mengatakan bahwa manusia sekarang sudah kehilangan keteladan, kehilangan norma, yang mana hal itu mestinya dicontohkan oleh para pemimpin.

Ini yang selanjutnya membuat masyarakat cenderung suka iri hati, dengki, berdebat tanpa batas dan bertindak sesuka hati. Sikap ini kemudian menimbulkan 'Social Distrust', rasa saling tak percaya dan tingkat kepercayaan yang rendah.

"Kedua hal tersebut adalah modal sosial, yang paling penting, bahkan lebih penting dari sumber daya alam. Dan akhirnya, masyarakat yang tak bisa dipercaya adalah masyarakat yang tak bisa diajak berunding. Ini yang terjadi saat ini," tambahnya.

Terkait zaman teknologi yang canggih hari ini, Chaidir mengatakan hal itu menjadi faktor yang membuat perubahan sikap masyarakat semakin cepat. Ini harus dipahami betul-betul oleh Partai Golkar.

"Saat ini, era ini, cara komunikasi berubah, kalau Golkar masih menggunakan cara-cara lama, Golkar akan hanyut. Dalam selimut isu kekinian ini lah Golkar berada. Golkar saat ini dalam rimba belantara demokrasi. Ada harimau biawak, ular, singa, semua. Dengan milenial yang jadi penentu pemilih kedepan," ujarnya lagi.

Lebih jauh, Chaidir menyarankan, agar Golkar bisa menjadi partai moderen, dengan fungsi rekrutmen dan kaderisasi yang baik. Hal ini mewajibkan harus menjadi Parpol sebagai sebuah sekolah yang mendidik kadernya untuk menjadi pemimpin, yang mampu mengikuti perkembangan zaman dengan teknologinya.

Sebagai orang yang pernah menjadi kader Golkar selama 35 tahun, Chaidir mengakui Partai Golkar turut membesarkan namanya. Dan saat dia menjadi Ketua DPRD Riau, Chaidir memberi ruang yang lebar untuk para aktifis, diantaranya Zulfan heri, Repol, dan Gumpita.

"Golkar ini partai yang membesarkan saya, 35 tahun saya aktif di Golkar, dari 70 an saya di Golkar, dan akhirnta saya mundur dari Golkar tahun 2008 karena maju calon gubernur. Saya junjung tinggi etika demokrasi, saya ketua DPRD Riau kala itu, dan Rusli Zainal ketua saya. Maka, saya mundur dari Golkar. Lawan RZ, saya kalah. RZ dilawan, mana bisa," kata Chaidir sambil tertawa. ***