PEKANBARU – Nilai ekspor Provinsi Riau menunjukkan kinerja positif sepanjang Januari–Agustus 2025, dengan capaian US$14,22 miliar. Angka ini tumbuh 24,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024, didorong terutama oleh geliat ekspor nonmigas yang melonjak 30,39 persen menjadi US$13,44 miliar.

Pada Agustus 2025 saja, ekspor Riau mencatat nilai US$2,02 miliar, tumbuh 23,45 persen secara tahunan (year-on-year). Sektor nonmigas kembali menjadi penyokong utama dengan pertumbuhan pesat sebesar 31,74 persen pada bulan tersebut.

"Pertumbuhan ekspor nonmigas yang mencapai lebih dari 30 persen menjadi penopang utama kinerja perdagangan Riau. Ini menunjukkan diversifikasi andalan kita semakin kuat," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, seperti dikutip dari rilis resmi, Jumat (3/10/2025).

Dari sisi komoditas, lemak dan minyak hewan/nabati yang didominasi minyak sawit (CPO) dan produk turunannya menjadi primadona dengan peningkatan nilai ekspor terbesar, yakni US$2,65 miliar atau naik 50,35 persen.

Komoditas lain yang juga mencatatkan pertumbuhan signifikan adalah buah-buahan yang melonjak 80,58 persen, serta berbagai produk kimia yang naik 42,18 persen.

Di sisi pasar, Tiongkok masih menjadi tujuan ekspor terbesar dengan nilai US$2,01 miliar, diikuti oleh India (US$1,31 miliar), dan Malaysia (US$977,39 juta). Namun, pertumbuhan tercepat justru dicatat untuk negara-negara di luar tujuan tradisional.

Ekspor ke Bangladesh melonjak 156,32 persen dan ke Brazil bahkan meroket 270,26 persen, menunjukkan keberhasilan perluasan pasar. Kawasan ASEAN juga menjadi penopang kuat dengan kontribusi US$2,49 miliar, tumbuh 57,82 persen.

Kinerja positif ini sekaligus mengonfirmasi keberhasilan diversifikasi ekonomi Riau. Ekspor nonmigas hasil industri pengolahan tumbuh 30,60 persen, sementara ekspor hasil pertanian juga naik 22,61 persen.

Di balik tren positif ini, tantangan masih ada. Ekspor komoditas ampas dan sisa industri makanan mengalami penurunan terbesar, yakni 64,36 persen. Sementara itu, ketergantungan pada sektor migas masih terlihat sebagai titik lemah, dengan nilai ekspor migas yang turun 30,68 persen selama periode ini.

Dengan kinerja delapan bulan pertama ini, ekspor Riau berada pada trajectory yang kuat untuk mencatatkan rekor baru di akhir tahun, didorong oleh permintaan global yang tetap tinggi untuk komoditas andalannya, khususnya minyak sawit dan produk turunannya. ***