PEKANBARU - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menindaklanjuti laporan masyarakat serta video viral mengenai kemunculan dan keberadaan jejak yang diduga Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Jalan Lingkar Bangkinang Kota, Kabupaten Kampar, Senin (2/11/2026).

Berdasarkan hasil identifikasi terhadap sumber foto dan video yang beredar, pihak berwenang memastikan bahwa satwa liar yang melintas tersebut memang benar seekor Harimau Sumatera. Tim dari resor Kampar langsung bergerak cepat dengan menggandeng warga setempat untuk melakukan mitigasi dan pengecekan lapangan.

"Berdasarkan identifikasi dari sumber foto/video yang beredar, benar bahwa satwa tersebut seekor Harimau Sumatera," beber Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau, Ujang Holisudin, S.Hut.

Dalam proses penelusuran di lokasi kejadian, tim gabungan menemukan jejak tapak baru di sekitar titik awal perjumpaan satwa. Ukuran tapak kaki tersebut mengindikasikan bahwa individu harimau ini masih berusia remaja.

Dari penelusuran lebih lanjut, arah jejak kaki tersebut terpantau masuk ke dalam kawasan Hutan Kebun Raya milik Universitas Pahlawan Bangkinang. Lokasi kampus ini dikelilingi oleh pemukiman padat penduduk serta memiliki fasilitas kandang ternak ayam dan kambing.

Kondisi geografis area kebun raya yang didominasi oleh semak belukar dinilai sangat berpotensi dan nyaman bagi satwa liar untuk bersembunyi. Guna mengantisipasi risiko interaksi negatif, petugas telah berkoordinasi langsung dengan pihak pengelola universitas.

Pihak BBKSDA Riau mengimbau seluruh pegawai kampus serta masyarakat sekitar agar meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di luar rumah. Warga juga diminta untuk sementara waktu menghentikan segala bentuk aktivitas di dalam area Kebun Raya Universitas Pahlawan.

Sebagai upaya lanjutan untuk memantau pergerakan satwa, tim teknis segera mendirikan pos pantau dan memasang kamera pengintai (camera trap). Perangkat ini krusial untuk melakukan penilaian risiko konflik guna menentukan langkah penanganan berikutnya.

"Tim telah melakukan pengambilan dokumentasi serta titik koordinat sebagai dasar untuk tindakan mitigasi lebih lanjut," pungkasnya. (wpa)